Rabu, 06 Desember 2017

Prasangka




Aku sedang mengomando pasukan kecilku untuk merapikan mainan mereka, ketika terdengar orang mengucap salam di pintu depan. Aku tergopoh-gopoh menghampiri.
            Aku terkejut bukan kepalang mendapati sosok di depan pintu. Rasa takut menjalariku. Di depanku, berdiri seorang laki-laki berwajah mengerikan, rupa paling buruk yang pernah kulihat. Wajahnya seperti meleleh karena luka bakar. Ia mengenakan kemeja lusuh, dan menyandang ransel kumal di bahunya.
            Ia membuka mulut seperti hendak berbicara, tapi aku segera berbalik masuk karena terlalu takut mendengar suaranya. Kucari dompetku, untuk mengambil uang, hal yang biasa kulakukan jika ada orang yang datang ke rumah untuk meminta sedekah. Namun karena panik, tak kutemukan dompet itu. Akhirnya kuambil uang dari lemari kamarku, lalu kutemui kembali lelaki itu.
            “Ini,” kataku takut-takut.
            Laki-laki itu terlihat seperti ingin tersenyum. Tapi tetap terlihat menakutkan.
            “Saya tidak meminta uang, Bu,” ujarnya. Ia mengulurkan sesuatu. Dompetku! “Ini, saya temukan di dekat sekolah Al-Kautsar. Dari KTP-nya saya bisa mencari alamat ini.”
            “Oh?” Mukaku mendadak terasa panas, malu karena sudah berburuk sangka padanya. Sebelum aku sempat berkata-kata, lelaki itu berbalik untuk pergi.
“Pak, tunggu,” seruku. Kuambil selembar uang dan kuulurkan padanya.
“Tidak usah Bu,” sahutnya. “Saya ikhlas. Mari, saya permisi. Assalamu alaikum.”
Laki-laki itu berjalan menjauh, berbaur dengan keremangan. Di kejauhan, azan maghrib berkumandang.




Sabtu, 18 November 2017

LUBANG HITAM



          
 
Aku membaca pesan singkat di telepon genggam dengan malas. Dari nama pengirimnya saja aku sudah tahu apa yang diinginkannya dariku.
            Mbak, maaf ya, langsung aja nih, aku mau nanyain, uang seratus ribu yang dulu Mbak pinjam dariku, kapan mau dikembalikan? Aku lagi perlu banget soalnya. Tolong kabari aku secepatnya ya Mbak.” Begitu isi pesannya.
            Aku mengeluh. Dari mana bisa aku dapatkan uang untuk membayar hutang itu ya? Hari gajianku dari bekerja menyeterika pakaian di rumah Bu RW, masih akhir bulan nanti. Ya Tuhan, aku harus mencarinya di mana? Leni sudah menagih terus sejak dua minggu lalu. Tapi aku benar-benar tidak punya uang untuk membayar hutangku tempo hari.
            Aku menuju dapur, menyiapkan sarapan pagi sebelum anak-anak berangkat sekolah. Suamiku sudah berangkat sejak subuh tadi untuk menarik angkot.
Hanya ada sebutir telur yang tersisa di dapur, jadi aku mengocoknya dan mencampurkan sedikit tepung agar dadar yang kubuat terlihat lebih tebal. Setelah matang, kuiris telur dadar itu menjadi dua. Kulihat masih ada dua bungkus mie goreng instan di atas rak. Aku memasaknya dan menyajikannya bersama nasi dan telur tadi.
            “Kok telurnya cuma setengah, Bu?” Protes Mira. Mira adalah putri keduaku yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar.
            “Sudah jangan protes,” sahutku, “makan saja apa yang Ibu masak. Sudah untung kita bisa makan telur pagi ini.”
            Dila, sulungku, menyikut adiknya. “Cepetan makan,” bisiknya pada Mira.
            Mira masih cemberut. “Aku pingin banget, sekali-sekali makan spageti, atau pizza, kayak teman-temanku.”
            “Teman-temanmu yang mana?” tanyaku. Rasa-rasanya kebanyakan teman sekolah Mira sama saja kondisi ekonominya dengan keluarga kami. Banyak orang tua mereka yang satu profesi denganku, menjadi buruh cuci, tukang setrika, atau asisten rumah tangga. Jadi aku penasaran, teman-teman yang mana yang dimaksud oleh Mira.
            Mira tersenyum malu. “Hehe, cuma seorang sih. Itu Bu, temanku yang namanya Dinda.”
            “Dinda anak pindahan itu?” tanyaku lagi.
Mira mengangguk. “Dinda kan orang kaya,” ucap Mira lugu. Ia mulai menyendokkan nasi ke mulutnya. “Waktu Dinda ulang tahun minggu kemarin, dia bawa pizza banyaaak banget, terus dibagi-bagi ke teman-teman sekelas, sama guru-guru juga. Enak banget deh Bu…”
“Kenapa kamu nggak bawa pulang sedikit?” Tanya Dila. “Curang, makan sendirian.”
“Habis, aku kan lapar. Tiap anak kan cuma dikasih sepotong,” jawab Mira membela diri.
Cerita Mira memberiku sebuah ide. Aku tersenyum lega karena telah menemukan jalan untuk menyelesaikan masalahku.
***

“Jadi begitu, Mbak,” aku mengakhiri ceritaku pada Santi, ibunya Dinda. “Sebenarnya, saya malu sampai pinjam-pinjam begini. Tapi ya, namanya kepepet. Saya bingung, mau minta tolong sama siapa, Mbak.”
Santi terdiam. Sorot wajahnya terlihat prihatin. “Ya sudah, tunggu sebentar ya, Bu.” Ia lalu berdiri dan melangkah masuk.
Aku bersyukur dalam hati. Pagi tadi, setelah berbasa-basi menyapa Santi, aku menanyakan alamat rumahnya. Tanpa curiga ia memberitahuku. Lalu sore ini aku datang ke rumahnya, dengan wajah yang kubuat sememelas mungkin. Aku ceritakan padanya betapa putus asanya diriku, karena sulungku yang duduk di kelas enam belum membeli berbagai buku untuk persiapan menjelang ujian. Sementara guru terus menerus menyindir anak-anak yang belum mempunyai buku. Aku mencoba meminjam uang sana-sini, namun tak ada yang mau membantu.
            Santi menyimak ceritaku dengan penuh simpati. Mamanya Mira butuh berapa? Tanyanya. Dua ratus ribu saja Mbak, jawabku.
            Santi keluar ke ruang tamu dengan membawa lembaran uang. Diulurkannya uang itu padaku.
            “Makasih banyak ya, Mbak Santi,” ucapku penuh haru. “Saya janji, akhir bulan setelah saya dapat gaji nanti, pasti langsung saya bayar.”
            Santi mengangguk dan tersenyum. “Iya, tenang saja, Mama Mira.”
            Aku segera pamit dan berlalu dari rumahnya. Hatiku dibanjiri rasa lega. Dengan uang pinjaman ini, aku bisa membayar hutangku pada Leni, dan membungkam mulutnya yang bawel itu. Aku tidak benar-benar jujur waktu berkata pada Santi bahwa aku meminjam uang untuk membayar buku-buku Dila. Sebenarnya prioritasku adalah membayar hutang pada Leni. Tapi memang, aku harus membayar buku Dila juga, sekitar lima puluh ribu rupiah. Jadi aku tidak benar-benar berbohong, bukan? Dengan begitu maka aku tidak perlu terlalu merasa bersalah pada Santi. Masih ada sisa uang yang bisa kupakai untuk membeli daging ayam atau ikan di pasar. Kasihan Mira yang mengeluh karena makan telur dan mi instan setiap hari.
            Kadang kupikir betapa melelahkannya hidupku. Penghasilan suamiku dari menarik angkot tidaklah seberapa. Apalagi sejak maraknya ojek online, yang jauh lebih diminati masyarakat. Itu membuat pendapatan suamiku jauh menurun. Sementara kebutuhan hidup kami tidak berkurang. Membayar kontrakan, listrik, dan makan sehari-hari. Ada juga kebutuhan mendadak seperti anak-anak harus ikut kegiatan berenang, atau berkemah, atau sakit. Apalagi kini Dila sudah kelas enam, semakin banyak kebutuhan sekolahnya untuk persiapan ujian kelulusan dan perpisahan nanti.
Itu tadi semuanya hanya hal-hal yang pokok, yang tidak bisa kami hindari. Yang kerap kali menambah masalah, sering kali teman-temanku membawa barang-barang untuk dijual di sekolah, seperti baju-baju anak, seprai, daster, gamis, kerudung, dan yang lainnya. Melihat barang-barang yang menarik itu, wanita mana yang tidak tergiur? Apalagi teman-temanku itu berjualan dengan sistem yang sama, yaitu ambil dulu barangnya, lalu bayar belakangan alias ngutang. Kelihatan sangat mudah saat aku mengambil barang, baru kemudian mulai membuat pening saat tiba waktu untuk membayar semuanya. Semakin bertambah saja bebanku jika demikian. Tak punya cara lain, jika sudah jatuh tempo, aku mencari-cari hutang yang baru untuk membayar hutangku yang lama. Gali lubang tutup lubang. Melelahkan memang. Tapi jika tidak begitu, keluarga kami benar-benar tidak bisa memiliki barang apapun.
***

“Mbak! Mbak Nur,” seseorang memanggilku dari belakang. Aku menoleh dan mendapati Linda tengah berjalan tergopoh-gopoh mendatangiku.
“Eh, Lin, ada apa?” Tanyaku pura-pura polos.
“Itu, gamis yang dulu Mbak Nur ambil, kan baru bayar setengah ya? Ini udah dua bulan nih, udah harus bayar yang setengahnya lagi.” Linda menjelaskan.
“Aku belum ada uang, Lin,” ujarku pelan. Kumanipulasi ekspresi wajahku sedemikian rupa agar ia merasa iba.
“Yah, terus gimana dong Mbak, aku kan juga butuh buat modal belanja lagi.”
“Nanti deh ya, akhir bulan. Tunggu aku gajian,” pintaku.
Linda memandangiku beberapa saat, lalu menarik napas panjang. “Ya udah deh, bener ya akhir bulan?”
“Iya, aku janji,” sahutku cepat. Detik itu juga aku ingat bahwa aku sudah menjanjikan gajiku di akhir bulan nanti untuk membayar hutangku pada Santi. Tapi itu urusan belakangan. Yang penting sekarang aku bisa lolos dahulu dari Linda.
Setelah Linda pergi, aku berjalan cepat-cepat menuju rumahku. Aku memutar otak, bagaimana caranya mendapatkan uang untuk melunasi hutangku. Hutang gamisku pada Linda masih seratus lima puluh ribu lagi. Belum lagi hutangku pada Santi. Tapi Santi kelihatannya orang yang baik. Lagipula dia kelihatan berkecukupan. Mungkin ia bisa memaklumi jika aku minta untuk menangguhkan dahulu pembayaran hutangku padanya.
***
Akhir bulan tiba. Seperti yang sudah kujanjikan, sore nanti aku akan ke rumah Linda untuk melunasi hutangku. Tinggal mencari alasan untuk menangguhkan pembayaran hutangku pada Santi.
Aku bergegas pulang dari rumah bu RW, dengan gaji di sakuku. Aku harus mampir ke warung Bu Lilis, membayar hutang beras dan minyak goreng minggu lalu. Aku baru saja memasuki halaman rumah Bu Lilis, ketika tiba-tiba seseorang menggamit lenganku.
“Ne…Neneng,” seruku kaget. Aku tidak melihat dia berdiri di sana tadi.
“Akhirnya ketemu juga, sudah lama aku mencari-cari kamu, tahu nggak?” ucapnya galak. “Aku cari ke rumahmu, selalu tertutup. Ku cari ke sekolah, selalu kabur duluan. Kapan kamu mau bayar hutangmu? Kamu ingat sudah berapa bulan kamu main kucing-kucingan sama aku?”
Tentu saja aku ingat, aku pernah meminjam uangnya untuk membayar DP sepeda motor beberapa bulan lalu. Waktu itu aku dan suamiku ingin mengkredit motor agar dapat digunakan untuk mengojek online. Sebenarnya, akulah yang memaksa suamiku. Gaji seorang pengojek online tampaknya lebih menjanjikan dari pada supir angkot. Jadi aku merecokinya setiap hari, sampai akhirnya ia menyerah dan setuju untuk mengambil kredit motor. Mulanya, kami bisa membayar cicilan dengan rutin, tetapi entah bagaimana, makin lama kami makin tidak sanggup membayar cicilannya. Setelah menunggak beberapa bulan, akhirnya sepeda motor itu ditarik kembali.
Neneng melihatku memasukkan tangan ke dalam saku.
“Kamu baru saja gajian dari Bu RW kan?” tanyanya dengan nanda menuntut. “Ayo, bayar hutangmu sekarang!”
Aku menggeleng ketakutan. Kubenamkan tanganku dalam saku semakin dalam.
Neneng naik pitam. Ia mencengkeram tanganku dan memaksa mengeluarkan tanganku dari saku.
“Nah benar kan,” Neneng berseru senang, melihat lembar-lembar uang yang kugenggam. “Kamu mau beralasan apa lagi? Kamu mau berurusan dengan polisi?”
Aku menggeleng kuat-kuat. Apa jadinya kalau ia benar-benar membawaku ke polisi? Bagaimana dengan Dila dan Mira nanti?
Neneng merebut uangku dengan kasar. Dihitungnya lembaran-lembaran uang itu, lalu ia melihatku dengan marah. “Cuma segini?”
Aku mengangguk. Memang hanya empat ratus ribu, gajiku dari menyetrika baju di rumah Bu RW setiap bulannya.
“Kamu ini ya, kalau sudah tahu nggak punya uang, jangan kebanyakan gaya dong! Ternyata gajimu cuma segini! Tapi gayamu itu, hutang sana, hutang sini. Kredit motor, kredit panci, baju, segala macam. Kebanyakan gaya! Mau kamu bayar pakai apa?!”
Mukaku terasa panas. Mungkin aku memang salah, tapi ia tidak berhak mempermalukan aku seperti ini di depan umum. Di depan warung Bu Lilis, di tengah keramaian orang. Aku sungguh  berharap tanah yang kuinjak ini terbelah agar aku bisa menghilang ke dalamnya.
“Ini masih kurang! Aku kasih kamu waktu seminggu lagi, dan semuanya harus lunas. Aku nggak mau tahu. Awas saja sampai kamu berani kabur,” ancam Neneng. Ia memandangiku dari atas sampai bawah, dengan tatapan seperti sedang melihat tikus tergilas di jalanan.
Sebelum pergi ia masih sempat mencemoohku, “Banyak gaya sih lu. Makan tuh gaya.”
***

Aku memasuki rumah dengan perasaan hampa. Kedua kakiku terasa lemas. Aku jatuh terduduk di kamar. Tak jadi aku membayar hutang beras di warung Bu Lilis. Dan entah bagaimana aku harus menghadapi Linda nanti. Uangku sudah habis. Belum kutemukan lagi tempat untuk menggali dan menutup lubang-lubang hutangku. Tak mungkin pula aku meminta pada suamiku. Penghasilannya hanya cukup untuk membayar sewa kontrakan dan listrik. Masalah DP motor itu, ia memang pernah berjanji akan memikirkan cara melunasinya. Tetapi hanya janji-janji saja. Tidak mudah mengumpulkan uang sebanyak itu dengan penghasilannya yang pas-pasan.
Kupandangi seisi kamarku yang kecil dan gelap. Awalnya hanya ada sebuah kasur di kamar ini. Lalu aku membeli sebuah kasur lagi, agar anak-anak bisa tidur dengan lebih nyaman. Tentu saja secara kredit. Di ujung sana, aku meletakkan sebuah lemari plastik, penuh sesak menampung baju-baju kami, yang semula hanya disimpan di dalam kardus. Lemari itu juga kubeli dengan cara kredit.
Pandanganku beralih ke barang-barang lainnya. Seprai, selimut, baju-baju. Panci-panci di dapur. Itu semua juga kubeli secara kredit. Mulanya hanya satu macam barang saja setiap bulan. Lalu entah mengapa, semakin lama jadi semakin banyak barang yang kubeli secara berhutang. Hidup kami memang pas-pasan. Tetapi apakah salah, jika aku ingin memiliki barang-barang yang bagus, seperti orang lain?
Kepalaku sakit. Aku hanya ingin berdiam di rumah saja seharian. Saat Dila dan Mira pulang dari sekolah, aku berpesan pada mereka, jika ada yang mencariku, katakan saja ibu tidak ada.
“Memangnya kenapa Bu?” Tanya Mira.
Aku menggeleng. “Tidak apa-apa,” jawabku.
Sisa hari itu kuhabiskan dengan berbaring-baring saja di kamar. Kepalaku sakit. Aku terlalu bingung untuk melakukan apapun.
Pagi hari ketika terbangun dari tidur, kepalaku masih berdenyut-denyut. Handphone bututku berdenting, menandakan ada pesan yang masuk. Dari Linda. Sudah bisa kutebak seperti apa isinya.
Mbak, hari ini bayar gamisnya ya, kan sudah janji. Nanti aku ke rumahmu.
Jadi aku berangkat kerja ke rumah Bu RW pagi-pagi sekali, demi menghindar bertemu dengan Linda.

Rumah Bu RW pagi ini sepi. Pak RW, sedang ada kegiatan di kantor kelurahan. Bu RW tengah sibuk di Posyandu. Kedua anak mereka sudah berangkat ke sekolah. Bu RW berpesan agar kunci pintu nanti dititipkan pada Bu Sari, tetangga samping rumahnya.
Bu RW biasa mencuci pakaiannya sendiri. Ia menggunakan mesin cuci satu tabung, dan sangat khawatir mesin itu cepat rusak jika dioperasikan oleh orang lain selain dirinya. Urusan bersih-bersih rumah dan mencuci piring juga ia kerjakan sendiri. Jadi tugasku di rumah ini hanya menyetrika pakaian. Setelah selesai, pakaian itu kupisah-pisahkan berdasarkan pemiliknya, lalu ku letakkan di kamar mereka masing-masing.
Hari ini, aku tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaanku. Seraya menyetrika, pikiranku terus melayang pada Linda, Santi, dan Bu Lilis. Juga pada hinaan Neneng kemarin.
Pagi ini aku berhasil menghindari Linda. Tapi bagaimana hari berikutnya? Dan bagaimana pula dengan ancaman Neneng jika minggu depan aku tidak bisa melunasi hutangku padanya? Kepalaku sungguh sakit memikirkannya. Aku sungguh kehabisan akal, bagaimana seharusnya aku keluar dari semua masalah ini.
Jam di ruang tengah Bu RW sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Aku menghembuskan napas lega, setelah baju terkhir selesai kusetrika. Aku menyusun baju-baju itu berdasarkan pemiliknya. Baju Rendi dan Nita, anak-anak Bu RW, kumasukkan  ke kamar mereka masing-masing. Kamar Nita sangat bersih dan rapi. Sama seperti ibunya, rupanya dia sangat rajin membersihkan  kamar. Kamar Rendi sebaliknya. Buku-buku, kaus kaki, raket bulu tangkis, topi dan jaket berserakan di lantai. Kasurnya acak-acakan. Selimut, bantal, dan guling bergulung-gulung di atasnya. Aku sedang bertanya-tanya dalam hati apakah aku harus membereskannya atau tidak, ketika kulihat sesuatu tersembul dari bawah selimut. Sebuah laptop. Dan sebuah kartu dilapisi plastik berisi sejumlah uang. Kartu bayaran dengan nama sekolah swasta tempat Rendi dan Nita bersekolah. Jumlahnya lumayan.
Jantungku berdegup kencang. Jika aku menjual laptop ini, akan lebih dari cukup untuk melunasi semua hutangku. Aku tak perlu lagi menghindari Linda dan Santi. Tak perlu merasa malu lagi pada Bu Lilis. Dan yang terpenting, tak perlu menunduk-nunduk lagi di depan Neneng. Tapi bagaimana jika mereka menanyaiku, apakah aku melihat laptop Rendi atau tidak? Tapi, sepengetahuanku, Rendi itu anak yang ceroboh dan pelupa. Ia pernah dua kali kelihangan handphone-nya. Kali pertama di sekolah, lalu yang kedua ketika bepergian dengan temannya. Jika laptop ini hilang, mereka akan menyangka Rendi lupa meletakkannya saat di sekolah atau di rumah temannya, dan saat itulah laptopnya diambil orang. Yah, mereka mungkin akan sedikit mencurigaiku juga, tapi toh mereka tak memiliki bukti untuk menuduhku.
Aku bergegas ke dapur untuk mencari kantong plastik. Aku membungkus laptop itu rapat-rapat, dan memasukkannya dalam kantong plastik hitam yang lebih besar. Tak ketinggalan, kumasukkan pula kartu bayaran sekolah Rendi yang berisi uang. Jika aku bergegas, tak akan ada seorangpun yang mencurigaiku.
Aku mengunci pintu depan dengan tergesa-gesa. Ketika berbalik, aku terkejut bukan kepalang sampai rasanya jantungku mau copot. Bu RW berdiri tepat di depanku!
“Sudah selesai menyetrikanya, Nur?” ia bertanya ramah seperti biasanya. Namun dalam kepanikanku, suaranya bagaikan halilintar yang merobek-robek jantungku.
“Kamu kenapa, kok pucat begitu?” Matanya segera beralih pada bungkusan di tanganku. “Apa yang kamu bawa itu?” Ia bertanya dengan nada heran.
Aku terdiam dan menggeleng lemah. Sekujur tubuhku seakan diguyur air es.
“Kamu bawa apa itu, Nur?”
Ingin rasanya aku segera kabur. Tapi ia berdiri tepat di hadapanku. Ia mulai curiga dengan sikapku.
“Boleh saya lihat? Apa yang kamu bawa itu?”
Melihatku diam mematung, Bu RW kian mencurigaiku. Diambilnya bungkusan plastik dari tanganku. Matanya terbelalak. “Kamu mencuri?”
Aku mencoba mencari alasan. Tapi ia bergerak lebih cepat.
“Saya tidak bisa memaafkan seorang pencuri, apalagi jika pelakunya adalah orang dekat saya sendiri.” Bu RW berseru marah.
Ia menarikku ke dalam rumah. Aku menangis dan berteriak-teriak meminta maaf. Aku katakan padanya berkali-kali aku khilaf. Beberapa tetangga mulai berdatangan, mendengar suara ribut-ribut. Aku takut luar biasa. Aku takut mereka akan datang berbondong-bondong dan memukuliku, seperti yang mereka lakukan pada maling motor yang tertangkap basah beberapa bulan lalu.
Bu RW mendorongku ke ruang tamu. “Kamu duduk di sini! Diam di sini sampai saya panggil Pak RW dan polisi!”
“Jangan Bu… Jangan,” seruku panik. Aku tak mau dipenjara. “Saya minta maaf, Bu… Saya khilaf…”
“Ah, alasan saja kamu,” sergah Bu RW. “Diam di sini sampai polisi datang! Dan jangan berani-berani kabur ya, di dalam sini kamu aman, tapi kalau kamu kabur, warga sekampung ini bisa memukuli kamu!”
Aku tersedu. Tak lama Pak RW datang bersama dua orang polisi. Mereka berbicara dengan Bu RW. Tapi aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Aku hanya menangis, menangis, dan menangis. Bayangan Linda, Santi, Neneng, Bu Lilis, berputar-putar di hadapanku. Lalu muncul bayangan Dila dan Mira. Aku melolong putus asa. Lalu aku merasa tertarik jauh, jauh sekali dalam lubang hitam yang sangat dalam yang telah kuciptakan sendiri.

Kamis, 16 November 2017

ARISAN





            Bu Dini sibuk sekali merapikan rumahnya sejak pagi. Rumah yang biasanya memang sudah rapi itu, ia bersihkan dengan teliti. Kemarin ia sudah menyuruh Wati, asistennya, mengganti karpet dan gorden dengan yang bersih.
            Rumput di halaman depan sudah dipotong, jendela-jendela dilap hingga berkilau, teras rumah sudah dipel hingga bersih bersinar sampai-sampai kucing yang lewat pun bisa bercermin di atasnya. Setiap sudut rumahnya sudah dibersihkan dengan sempurna. Bukan karena akan kedatangan ibu mertua, melainkan karena siang nanti ia mendapat giliran menjamu teman-teman arisannya.
            Mulanya, Bu Dini ikut arisan ini hanya untuk menjalin silaturahim dengan teman-temannya satu klub senam. Lalu ia berpikir, arisan ini sebenarnya hitung-hitung menabung juga. Untuk seorang ibu rumah tangga seperti dirinya, menabung terbilang cukup sulit. Ada sedikit sisa uang belanja, si sulung minta dibelikan gamis baru untuk mengaji. Atau si tengah minta tas baru karena tas lamanya sudah jebol, tak mampu menahan beratnya buku-buku yang harus dibawa anak sekolah zaman sekarang. Atau membelikan kado teman si bungsu yang berulang tahun di TK. Atau keperluan mendadak saat suaminya sedang dinas keluar kota, seperti mesin pompa air rusak, keran bocor, saluran air mampet, genting bocor, dan lain-lain.
Maka bagi Bu Dini, jika ia menginginkan barang-barang tertentu seperti oven yang lebih besar padahal oven lamanya yang mungil masih bisa dipakai, pernak-pernik untuk mendekorasi rumah, bunga-bunga anggrek untuk melengkapi koleksinya, maka saat mendapat uang arisanlah ia dapat mewujudkan keinginannya dengan leluasa. Seperti kemarin misalnya, Bu Dini dan suaminya sudah berencana untuk membeli sepeda lipat agar mereka dapat bersepeda setiap akhir pekan bersama anak-anak. Namun tak disangka-sangka, uang yang sudah direncanakan itu akhirnya terpakai untuk berobat si sulung yang terkena typus. Namun tak lama kemudian Bu Dini mendapat uang arisan, dan mereka segera membeli sepeda lipat impian itu.
Walaupun suaminya pernah mengutarakan ketidaksukaannya pada forum arisan yang kebanyakan berubah menjadi sarana bergosip dan ajang pamer, namun ia cukup memahami keinginan Bu Dini untuk dapat menabung. Ia berpesan agar Bu Dini tidak terlibat terlalu jauh jika arisan-arisan tersebut hanya membawa dampak buruk.
            Maka hari itu, dengan bantuan Wati, Bu Dini menyiapkan aneka hidangan untuk menjamu teman-temannya siang nanti. Demi kelancaran acaranya itu pula, Bu Dini meminta suaminya mengajak anak-anak ke toko buku. Tujuannya jelas, agar anak-anak tidak merecoki arisan nanti.
            Bu Dini pernah menghadiri arisan RT di lingkungan kompleknya, di mana sang tuan rumah menjamu tamunya dengan nasi liwet khas sunda. Sederhana saja menunya, nasi liwet yang bertabur ikan teri di atasnya, ditemani sambal terasi yang pedas menggigit, ikan asin peda, tahu tempe goreng, lalapan, dan tak lupa bintang utamanya, jengkol goreng. Yang lebih istimewa, mereka menikmati hidangan itu dengan cara lesehan, di atas hamparan daun pisang. Menu tradisional yang ternyata tak lekang digerus zaman. Para tamu terlihat sangat menikmati hidangan dan terkesan dengan cara penyajiannya.
            Berdasarkan pengalaman itulah, Bu Dini ingin juga menyajikan menu serupa dalam arisan kali ini. Nasi liwet sunda, dengan berbagai pelengkapnya. Ia sempatkan juga membuat sop buah sebagai hidangan penutup. Untuk appetizernya, ia sudah memesan sosis solo dan risoles isi smoked beef, keju dan mayonnaise, ke tetangga yang sering menerima pesanan kue basah.
            “Aduuh Ibu, meuni resep ih, ini mah seperti di kampung saya, di Cianjur” seru Wati dengan mata berbinar-binar. “Memangnya nggak apa-apa gitu Bu, orang kota dikasih makanan seperti ini?”
            “Nggak apa-apa, Wati,” sahut Bu Dini. “justru ini teh sedang nge-trend. Hal-hal yang berbau kampung begini malahan sedang dicari-cari sekarang. Kata orang, ini namanya kekinian.”
            “Oooh, jadi ini yang namanya kekinian,” Wati mengulangi.
            Bu Dini tersenyum geli melihat ekspresi Wati yang polos.
***
            Siang hari, satu persatu tamu berdatangan. Obrolan meluncur dan meluas dengan sendirinya. Mereka memuji rumah Bu Dini yang luas dan rapi sempurna. Membanding-bandingkannya dengan foto rumah-rumah cantik yang marak di instagram. Pasti dari sana kan, Bu Dini mendapatkan ide untuk menata rumah bergaya Skandinavia begini? Tanya seseorang. Bu Dini mengiyakan.
Ada yang menanyakan ke mana perginya anak-anak, kok rumah terlihat sepi. Ada pula yang bertanya apakah ada tetangga Bu Dini yang ingin mengontrakkan rumahnya. Ia sedang mencari kontrakan dan tertarik dengan lingkungan komplek Bu Dini yang tenang.
            “Kalau di perumahanku itu, Bu Dini, nggak pagi, siang, sore, ruameee betul sama orang jualan. Yang rotilah, ketoprak, tahu, bubur…” ujar Bu Ningsih. “Kita habis nyuci, beres-beres rumah, pingin rasanya tidur siang sebentar saja. Eh, baru ngeliyep lima menitan sudah ada suara ting ting ting, tukang bakso.” Ibu-ibu yang lain tertawa.
Bu Ningsih melanjutkan, “Belum lagi kalau sore, anakku sama anak-anak tetangga main bola di depan rumah, berisiknya minta ampun. Makanya nanti habis kontrakan bulan depan, saya maunya pindah, nggak di situ lagi.”
            “Padahal enak lho Bu, banyak penjual makanan yang lewat,” ujar Bu Dini, “saya saja di sini kalau butuh apa-apa harus pakai motor, karena jauh dari warung.”
            “Ada enaknya, ada nggak enaknya,” timpal Bu Lela. “Enaknya komplek kayak Bu Dini ini, sepi, enak buat istirahat, anak-anak juga bisa main dengan aman karena nggak banyak kendaraan yang lalu lalang. Tapi ya itu, mau cari makanan agak susah.”
            “Nanti deh ya, coba saya tanya-tanya satpam, barangkali ada rumah yang lagi dikontrakkan,” kata Bu Dini.
            “Iya Bu, tolong ya,” sahut Bu Ningsih.
            “Ayo sambil dicicipi kuenya, Ibu-Ibu,” Bu Dini mempersilakan.
            “Dibuka saja yuk, arisannya,” saran Bu Meta yang sejak tadi diam menyimak obrolan. Diambilnya sepotong sosis solo.
            “Sebentar Bu, masih banyak yang belum datang nih,” sahut Bu Lela sang bendahara. Ia memeriksa buku catatannya.
            “Bu Elis mau datang tidak? Dia belum bayar arisan yang bulan lalu kan?” Tanya Bu Meta.
            Bu Lela mengangguk “Dua bulan dia belum bayar. Dengan yang sekarang jadi tiga bulan.”
            “Begitu tuh, kelakuannya, kalau sudah dapat duluan di awal arisan. Yang berikutnya jadi tidak pernah datang. Tidak menitipkan uang juga.” Ujar Bu Meta kesal.
            Ibu-ibu yang lain diam. Beberapa diantaranya sibuk dengan camilan.
            “Ini enak lho, Bu Dini,” ucap Bu Ningsih, menunjukkan risoles mayonnaise di tangannya. “Bikin sendiri?”
            Bu Dini menggeleng. “Saya pesan di tetangga, Bu.”
            “Bu Elis itu sepertinya sudah jarang datang senam lagi ya,” kata Bu Lela. “Rasanya saya jarang lihat di tempat senam. Kalaupun bertemu sepertinya dia selalu buru-buru pulang.”
            “Kita datangi saja dia yuk, ke rumahnya,” saran Bu Meta.
            “Nggak enak ah, Bu. Kesannya seperti kita ini mau nagih hutang.” Ujar Bu Ningsih.
            “Lho, kan memang iya, sudah tiga kali tidak bayar arisan, itu hutang namanya,” sahut Bu Meta sengit. “Kasihan yang belum dapat arisan kan, Bu.”
            “Mungkin dia lagi ada masalah ya,” ucap Bu Sulis. “Ini sebenarnya rahasia. Jangan bilang-bilang kalau kalian tahu dari aku, ya…”
            “Apa tuh, Bu Sulis?” Tanya Bu Lela.
            Bu Sulis mencondongkan badannya ke depan, lalu berbicara dengan suara rendah, dengan gaya seperti penggosip ulung. “Bu Elis itu kan istri kedua. Mungkin dia ada masalah sama suaminya atau istri pertama suaminya, kita nggak tahu pastinya sih. Tapi memang belakangan ini dia jarang ada di rumah. Rumahnya sering kosong. Mungkin dia ribut-ribut sama si istri tua ya. Tetanggaku kan ada yang saudaranya tetanggaan sama Bu Elis, dia bilang begitu.”
            Ibu-ibu yang lain saling berpandangan, terkejut dengan informasi baru itu. Bu Lela mengetuk-ngetukkan pulpennya ke buku catatan. Bu Ningsih hanya diam, memandangi risoles di tangannya yang tinggal sepotong. Spertinya ia kehilangan selera untuk menyantap potongan terakhir itu. Bu Sulis terlihat puas setelah menyampaikan berita besar tadi.
Bu Meta mengerutkan alisnya dengan raut wajah tidak senang. “Pelakor rupanya,” ujarnya dingin.
            Bu Sulis mengangkat bahu.
            “Apa itu, pelakor?” Tanya Bu Ningsih.
            “Perebut laki orang,” sahut Bu Sulis cepat.
            Bu Dini menarik napas panjang. Segala yang ditakutkannya kini terjadi. Arisan ini telah menjadi forum untuk menggunjingkan teman sendiri. Bu Dini sudah tahu berita mengenai Bu Elis itu sejak lama. Bukan dari tetangga yang bersaudara dengan siapanya Bu Elis, melainkan dari Bu Elis sendiri.
Di suatu sore yang diselimuti hujan deras, saat ia sedang mengantre di klinik tempat praktek dokter anak terdekat, membawa anak bungsunya yang batuk tak sembuh-sembuh. Bu Dini bertemu Bu Elis yang tengah menunggu dengan wajah pucat. Rupa-rupanya anak semata wayang Bu Elis sudah tiga hari mengalami demam tinggi. Bawa saja ke rumah sakit supaya segera ditangani Bu, saran Bu Dini. Bu Elis menggeleng. Dia tidak punya asuransi, katanya. Ayahnya ke mana? Tanya Bu Dini. Bu Elis terdiam sesaat. Lalu entah karena sedih, entah karena lelah menanggung beban demikian berat, akhirnya ia bercerita pada Bu Dini. Dengan berurai air mata.
Cerita sesungguhnya mengenai Bu Elis dan suaminya tidaklah benar-benar seheboh yang dipikirkan teman-temannya. Bu Elis seorang janda yang ditinggal suaminya meninggal karena sakit jantung. Ia lantas menghidupi anaknya dengan berjualan pakaian, daster, baju-baju anak, gamis, kerudung, dari rumah ke rumah. Kemudian ketika sedang kulakan barang dagangan, ia bertemu kawan lamanya semasa SMA. Mantan kekasih, lebih tepatnya. Si Pria ini ternyata baru saja berpisah dari istrinya. Singkat cerita, Bu Elis dan lelaki tersebut menikah. Suaminya adalah seorang pengusaha batik yang cukup sering bepergian keluar kota. Kehidupan Bu Elis membaik. Mereka membeli sebuah rumah di daerah Depok sini.
Sayangnya, kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Belum sampai setahun usia pernikahan itu, terkuaklah kebenaran bahwa suami Bu Elis ternyata memalsukan statusnya, ia belum bercerai dari istrinya. Wanita itu datang jauh-jauh dari Solo, ketika suami Bu Elis sedang keluar kota.
Masih muda dan cantik, dengan keanggunan wanita jawa pada umumnya. Usia wanita itu tampaknya tak terpaut jauh darinya. Dia datang, tidak dengan marah-marah. Tidak berteriak-teriak, memaki-maki, atau mengamuk histeris. Ia hanya duduk, berbicara dengan perlahan. Matanya sayu. Suaranya lembut dan tenang. Hanya air matanya yang tidak berhenti mengalir. Mengalir dengan sendirinya seakan mewakili setiap penderitaan yang telah ia rasakan.
Ia menceritakan pertemuannya dengan sang suami di sebuah universitas ternama di Yogyakarta. Bagaimana mereka kemudian berpacaran, lalu menikah. Lalu merintis usaha batik dari nol. Lalu memiliki anak-anak yang lucu-lucu. Semuanya sangat membahagiakan, sampai ketika suaminya mulai berubah sikap, sekitar setahun yang lalu.
Bu Elis hanya terdiam menyimak. Air matanya sudah mengalir sejak tadi. Setiap kata yang diucapkan wanita itu bagaikan batu berton-ton yang menimpa Bu Elis. Maka demi wanita yang meminta suaminya dikembalikan itu, dan empat orang anak yang masih membutuhkan ayah mereka, Bu Elis mengakhiri pernikahannya dengan hati dipenuhi luka.
Mendengar cerita itu, Bu Dini ikut merasa pedih. Lebih pedih lagi sekarang, ketika didengarnya teman-teman yang lain membicarakan Bu Elis sedemikian rupa. Jika ia tak terlanjur berjanji mengunci mulutnya rapat-rapat, tentulah ia sudah meralat semua perkataan Bu Sulis dan Bu Meta.
“Masa iya sih Bu,” gumam Bu Ningsih. “Sepertinya dia perempuan baik-baik lho.” Suaranya terdengar sedih.
“Ya… Begitulah hidup, Bu Ningsih,” ucap Bu Meta. “Kadang orang yang kelihatan baik, ternyata buruk di dalamnya.”
“Kita nggak bisa menghakimi begitu, Ibu-Ibu,” ucap Bu Dini akhirnya. Ia tak tahan lagi. “Toh kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga mereka.”
            Bu Meta merengut tak senang.
“Iya, lagipula sekarang banyak berita hoax,” Bu Lela menambahkan.
“Ini mah bukan hoax, Bu,” seru Bu Sulis yakin. “Valid. Sumbernya bisa dipercaya.”
Bu Dini heran bagaimana mungkin kabar dari seorang tetangga yang bersaudara dengan tetangganya seseorang yang lainnya, bisa disebut valid. Merunutnya saja membuat ia merasa pening. Namun ia diam saja.
“Iya… Lagipula, belum tentu Bu Elis yang salah, bukan?” ucap Bu Ningsih pelan. “Bisa saja karena si laki-lakinya yang menipu, misalnya. Atau karena si istri pertamanya galak, jadi laki-laki itu mencari pelarian di tempat lain.”
“Nggak percayaan amat sih, Bu Ningsih,” gerutu Bu Meta. “Harusnya sih ya, kalau sudah tahu si laki-laki sudah punya istri, ya jangan mau dong.”
“Sudahlah Ibu-Ibu,” Bu Lela menimpali. “Kok kita jadi membicarakan aib teman sendiri.”
“Lho, kan setidaknya kita jadi tahu, dengan orang yang bagaimana kita bergaul, Bu Lela,” sahut Bu Meta sengit.
Bu Dini merasa suasana akan sedikit memanas jika tidak segera diselamatkan. Ia kembali menarik napas panjang, lalu tersenyum selebar mungkin dan berkata, “Sambil menunggu ibu-ibu yang lain, kita makan duluan saja yuk. Itu sudah saya siapkan makanannya di ruang tengah.”
“Iya, yuk kita makan. Sudah lapar nih,” sahut Bu Lela senang.
Ibu-ibu yang lain mengikuti. Melihat daun pisang dihamparkan di ruang tengah, mereka berseru girang.
“Waduh, Bu Dini, ngeliwet nih? Mana ada favoritku lagi, si kancing levi’s. Bisa gagal total rencana diet saya, Bu,” seru Bu Ningsih disambut tawa yang lainnya.
“Udah, nggak usah mikir timbangan,” sahut Bu Sulis, “hajar saja… “
***

Bu Dini mengangkat wadah-wadah Tupperware kotor ke dapur. Wati sedang menggulung daun pisang bekas makan ibu-ibu barusan. Tadi, tak lama setelah acara makan siang di mulai, semakin banyak tamu yang berdatangan. Orang yang terakhir datang adalah Bu Elis. Ia membayar semua hutangnya dan meminta maaf karena dua kali menunggak arisan. Ia tengah sibuk merintis kembali bisnis pakaiannya. Itu sebabnya ia kini jarang ikut senam. Waktunya habis untuk mengurusi dagangannya, dan anak semata wayangnya. Ia kini menyewa sebuah kios di pasar untuk menjual baju-baju dagangannya.
“Pasti hasil memeras suaminya tuh,” Bu Dini sempat mendengar Bu Sulis dan Bu Meta berbisik-bisik.
Bu Dini menggeleng sedih, teringat perkataan kedua orang tadi. Ia sungguh tak habis pikir, mengapa ada orang yang begitu senang berburuk sangka pada orang lain? Dan yang diburuksangkakan adalah hal yang sama sekali bukan urusannya.
Bu Dini beranjak untuk membereskan gelas-gelas air mineral yang sudah kosong. Dilihatnya Wati memasukkan gulungan daun pisang ke dalam trash bag, menyatukannya dengan sampah-sampah lain. Wajahnya terlihat murung.
“Kamu kenapa, Wati?” Tanya Bu Dini. “Lapar? Makan dulu sana.”
Wati menggeleng. “Saya teh sedang sedih Bu.”
“Sedih kenapa?”
Wati diam sebentar. Ia menatap Bu Dini sesaat, lalu kembali memusatkan perhatiannya pada trash bag. “Itu, Bu. Teman Ibu yang tadi pakai kerudung merah itu, yang pakai kaca mata hitam ditaruh di jidat. Siapa sih itu Bu? Saya teh meuni kesel, kalau dengar dia bicara.”
“Ooh, Bu Meta? Memangnya kenapa?”
“Tadi saya dengar, dia bisik-bisik sama temannya. Dia bilang, orang kaya seperti Bu Dini kok ngasih suguhannya seperti ini. Nasi liwet, ikan asin. Pelit banget.”
“Oh ya?” Tanya Bu Dini. Alisnya terangkat.
Wati mengangguk sedih. “Padahal, harusnya apapun yang disuguhin sama tuan rumah, harusnya berterima kasih ya Bu. Makanan sebanyak ini, masa masih dibilang pelit? Apa semua orang kota seperti itu Bu?”
“Ya nggak juga, Wati. Kamu lihat kan tadi, Bu Ningsih, Bu Lela, dan yang lainnya. Masih banyak kok ibu-ibu yang baik. Lagian maksud saya bikin nasi liwet itu kan karena bisa dinikmati sambil ngeriung, biar lebih akrab begitu. Tapi ya…mungkin memang kurang cocok untuk ibu-ibu ini.”
“Ah enggak Bu, saya lihat tadi ibu-ibu yang lain enak banget makannya. Malahan pada nambah. Bu siapa itu tadi, Bu? Bu Meta? Dia juga lahap banget makannya. Cuma sayang aja, nggg…” Wati tidak meneruskan kata-katanya.
“Sayang kenapa?”
“Anu Bu… Mulutnya jahat,” jawab Wati pelan.
Bu Dini tersenyum. Ia masih mengingat jelas kata-kata Bu Meta tadi: setidaknya kita jadi tahu, dengan orang yang bagaimana kita bergaul?