Bu Dini sibuk sekali merapikan
rumahnya sejak pagi. Rumah yang biasanya memang sudah rapi itu, ia bersihkan
dengan teliti. Kemarin ia sudah menyuruh Wati, asistennya, mengganti karpet dan
gorden dengan yang bersih.
Rumput di halaman depan sudah
dipotong, jendela-jendela dilap hingga berkilau, teras rumah sudah dipel hingga
bersih bersinar sampai-sampai kucing yang lewat pun bisa bercermin di atasnya.
Setiap sudut rumahnya sudah dibersihkan dengan sempurna. Bukan karena akan
kedatangan ibu mertua, melainkan karena siang nanti ia mendapat giliran menjamu
teman-teman arisannya.
Mulanya, Bu Dini ikut arisan ini
hanya untuk menjalin silaturahim dengan teman-temannya satu klub senam. Lalu ia
berpikir, arisan ini sebenarnya hitung-hitung menabung juga. Untuk seorang ibu
rumah tangga seperti dirinya, menabung terbilang cukup sulit. Ada sedikit sisa
uang belanja, si sulung minta dibelikan gamis baru untuk mengaji. Atau si
tengah minta tas baru karena tas lamanya sudah jebol, tak mampu menahan
beratnya buku-buku yang harus dibawa anak sekolah zaman sekarang. Atau
membelikan kado teman si bungsu yang berulang tahun di TK. Atau keperluan
mendadak saat suaminya sedang dinas keluar kota, seperti mesin pompa air rusak,
keran bocor, saluran air mampet, genting bocor, dan lain-lain.
Maka
bagi Bu Dini, jika ia menginginkan barang-barang tertentu seperti oven yang
lebih besar padahal oven lamanya yang mungil masih bisa dipakai, pernak-pernik
untuk mendekorasi rumah, bunga-bunga anggrek untuk melengkapi koleksinya, maka
saat mendapat uang arisanlah ia dapat mewujudkan keinginannya dengan leluasa.
Seperti kemarin misalnya, Bu Dini dan suaminya sudah berencana untuk membeli
sepeda lipat agar mereka dapat bersepeda setiap akhir pekan bersama anak-anak.
Namun tak disangka-sangka, uang yang sudah direncanakan itu akhirnya terpakai
untuk berobat si sulung yang terkena typus. Namun tak lama kemudian Bu Dini
mendapat uang arisan, dan mereka segera membeli sepeda lipat impian itu.
Walaupun
suaminya pernah mengutarakan ketidaksukaannya pada forum arisan yang kebanyakan
berubah menjadi sarana bergosip dan ajang pamer, namun ia cukup memahami
keinginan Bu Dini untuk dapat menabung. Ia berpesan agar Bu Dini tidak terlibat
terlalu jauh jika arisan-arisan tersebut hanya membawa dampak buruk.
Maka hari itu, dengan bantuan Wati,
Bu Dini menyiapkan aneka hidangan untuk menjamu teman-temannya siang nanti.
Demi kelancaran acaranya itu pula, Bu Dini meminta suaminya mengajak anak-anak
ke toko buku. Tujuannya jelas, agar anak-anak tidak merecoki arisan nanti.
Bu Dini pernah menghadiri arisan RT
di lingkungan kompleknya, di mana sang tuan rumah menjamu tamunya dengan nasi
liwet khas sunda. Sederhana saja menunya, nasi liwet yang bertabur ikan teri di
atasnya, ditemani sambal terasi yang pedas menggigit, ikan asin peda, tahu
tempe goreng, lalapan, dan tak lupa bintang utamanya, jengkol goreng. Yang
lebih istimewa, mereka menikmati hidangan itu dengan cara lesehan, di atas
hamparan daun pisang. Menu tradisional yang ternyata tak lekang digerus zaman.
Para tamu terlihat sangat menikmati hidangan dan terkesan dengan cara penyajiannya.
Berdasarkan pengalaman itulah, Bu
Dini ingin juga menyajikan menu serupa dalam arisan kali ini. Nasi liwet sunda,
dengan berbagai pelengkapnya. Ia sempatkan juga membuat sop buah sebagai
hidangan penutup. Untuk appetizernya,
ia sudah memesan sosis solo dan risoles isi smoked
beef, keju dan mayonnaise, ke
tetangga yang sering menerima pesanan kue basah.
“Aduuh Ibu, meuni resep ih, ini mah seperti di kampung saya, di Cianjur” seru
Wati dengan mata berbinar-binar. “Memangnya nggak apa-apa gitu Bu, orang kota
dikasih makanan seperti ini?”
“Nggak apa-apa, Wati,” sahut Bu
Dini. “justru ini teh sedang nge-trend. Hal-hal yang berbau kampung
begini malahan sedang dicari-cari sekarang. Kata orang, ini namanya kekinian.”
“Oooh, jadi ini yang namanya
kekinian,” Wati mengulangi.
Bu Dini tersenyum geli melihat
ekspresi Wati yang polos.
***
Siang hari, satu persatu tamu berdatangan.
Obrolan meluncur dan meluas dengan sendirinya. Mereka memuji rumah Bu Dini yang
luas dan rapi sempurna. Membanding-bandingkannya dengan foto rumah-rumah cantik
yang marak di instagram. Pasti dari sana kan, Bu Dini mendapatkan ide untuk
menata rumah bergaya Skandinavia begini? Tanya seseorang. Bu Dini mengiyakan.
Ada
yang menanyakan ke mana perginya anak-anak, kok rumah terlihat sepi. Ada pula
yang bertanya apakah ada tetangga Bu Dini yang ingin mengontrakkan rumahnya. Ia
sedang mencari kontrakan dan tertarik dengan lingkungan komplek Bu Dini yang
tenang.
“Kalau di perumahanku itu, Bu Dini,
nggak pagi, siang, sore, ruameee betul sama orang jualan. Yang rotilah,
ketoprak, tahu, bubur…” ujar Bu Ningsih. “Kita habis nyuci, beres-beres rumah,
pingin rasanya tidur siang sebentar saja. Eh, baru ngeliyep lima menitan sudah ada suara ting ting ting, tukang bakso.” Ibu-ibu yang lain tertawa.
Bu
Ningsih melanjutkan, “Belum lagi kalau sore, anakku sama anak-anak tetangga
main bola di depan rumah, berisiknya minta ampun. Makanya nanti habis kontrakan
bulan depan, saya maunya pindah, nggak di situ lagi.”
“Padahal enak lho Bu, banyak penjual
makanan yang lewat,” ujar Bu Dini, “saya saja di sini kalau butuh apa-apa harus
pakai motor, karena jauh dari warung.”
“Ada enaknya, ada nggak enaknya,”
timpal Bu Lela. “Enaknya komplek kayak Bu Dini ini, sepi, enak buat istirahat,
anak-anak juga bisa main dengan aman karena nggak banyak kendaraan yang lalu
lalang. Tapi ya itu, mau cari makanan agak susah.”
“Nanti deh ya, coba saya tanya-tanya
satpam, barangkali ada rumah yang lagi dikontrakkan,” kata Bu Dini.
“Iya Bu, tolong ya,” sahut Bu
Ningsih.
“Ayo sambil dicicipi kuenya, Ibu-Ibu,”
Bu Dini mempersilakan.
“Dibuka saja yuk, arisannya,” saran
Bu Meta yang sejak tadi diam menyimak obrolan. Diambilnya sepotong sosis solo.
“Sebentar Bu, masih banyak yang
belum datang nih,” sahut Bu Lela sang bendahara. Ia memeriksa buku catatannya.
“Bu Elis mau datang tidak? Dia belum
bayar arisan yang bulan lalu kan?” Tanya Bu Meta.
Bu Lela mengangguk “Dua bulan dia
belum bayar. Dengan yang sekarang jadi tiga bulan.”
“Begitu tuh, kelakuannya, kalau
sudah dapat duluan di awal arisan. Yang berikutnya jadi tidak pernah datang. Tidak
menitipkan uang juga.” Ujar Bu Meta kesal.
Ibu-ibu yang lain diam. Beberapa
diantaranya sibuk dengan camilan.
“Ini enak lho, Bu Dini,” ucap Bu
Ningsih, menunjukkan risoles mayonnaise di tangannya. “Bikin sendiri?”
Bu Dini menggeleng. “Saya pesan di tetangga,
Bu.”
“Bu Elis itu sepertinya sudah jarang
datang senam lagi ya,” kata Bu Lela. “Rasanya saya jarang lihat di tempat
senam. Kalaupun bertemu sepertinya dia selalu buru-buru pulang.”
“Kita datangi saja dia yuk, ke
rumahnya,” saran Bu Meta.
“Nggak enak ah, Bu. Kesannya seperti
kita ini mau nagih hutang.” Ujar Bu Ningsih.
“Lho, kan memang iya, sudah tiga
kali tidak bayar arisan, itu hutang namanya,” sahut Bu Meta sengit. “Kasihan
yang belum dapat arisan kan, Bu.”
“Mungkin dia lagi ada masalah ya,”
ucap Bu Sulis. “Ini sebenarnya rahasia. Jangan bilang-bilang kalau kalian tahu
dari aku, ya…”
“Apa tuh, Bu Sulis?” Tanya Bu Lela.
Bu Sulis mencondongkan badannya ke
depan, lalu berbicara dengan suara rendah, dengan gaya seperti penggosip ulung.
“Bu Elis itu kan istri kedua. Mungkin dia ada masalah sama suaminya atau istri
pertama suaminya, kita nggak tahu pastinya sih. Tapi memang belakangan ini dia
jarang ada di rumah. Rumahnya sering kosong. Mungkin dia ribut-ribut sama si
istri tua ya. Tetanggaku kan ada yang saudaranya tetanggaan sama Bu Elis, dia
bilang begitu.”
Ibu-ibu yang lain saling
berpandangan, terkejut dengan informasi baru itu. Bu Lela mengetuk-ngetukkan
pulpennya ke buku catatan. Bu Ningsih hanya diam, memandangi risoles di
tangannya yang tinggal sepotong. Spertinya ia kehilangan selera untuk menyantap
potongan terakhir itu. Bu Sulis terlihat puas setelah menyampaikan berita besar
tadi.
Bu
Meta mengerutkan alisnya dengan raut wajah tidak senang. “Pelakor rupanya,”
ujarnya dingin.
Bu Sulis mengangkat bahu.
“Apa itu, pelakor?” Tanya Bu
Ningsih.
“Perebut laki orang,” sahut Bu Sulis
cepat.
Bu Dini menarik napas panjang.
Segala yang ditakutkannya kini terjadi. Arisan ini telah menjadi forum untuk
menggunjingkan teman sendiri. Bu Dini sudah tahu berita mengenai Bu Elis itu
sejak lama. Bukan dari tetangga yang bersaudara dengan siapanya Bu Elis,
melainkan dari Bu Elis sendiri.
Di
suatu sore yang diselimuti hujan deras, saat ia sedang mengantre di klinik
tempat praktek dokter anak terdekat, membawa anak bungsunya yang batuk tak
sembuh-sembuh. Bu Dini bertemu Bu Elis yang tengah menunggu dengan wajah pucat.
Rupa-rupanya anak semata wayang Bu Elis sudah tiga hari mengalami demam tinggi.
Bawa saja ke rumah sakit supaya segera ditangani Bu, saran Bu Dini. Bu Elis
menggeleng. Dia tidak punya asuransi, katanya. Ayahnya ke mana? Tanya Bu Dini.
Bu Elis terdiam sesaat. Lalu entah karena sedih, entah karena lelah menanggung
beban demikian berat, akhirnya ia bercerita pada Bu Dini. Dengan berurai air
mata.
Cerita
sesungguhnya mengenai Bu Elis dan suaminya tidaklah benar-benar seheboh yang
dipikirkan teman-temannya. Bu Elis seorang janda yang ditinggal suaminya
meninggal karena sakit jantung. Ia lantas menghidupi anaknya dengan berjualan
pakaian, daster, baju-baju anak, gamis, kerudung, dari rumah ke rumah. Kemudian
ketika sedang kulakan barang dagangan, ia bertemu kawan lamanya semasa SMA. Mantan
kekasih, lebih tepatnya. Si Pria ini ternyata baru saja berpisah dari istrinya.
Singkat cerita, Bu Elis dan lelaki tersebut menikah. Suaminya adalah seorang
pengusaha batik yang cukup sering bepergian keluar kota. Kehidupan Bu Elis
membaik. Mereka membeli sebuah rumah di daerah Depok sini.
Sayangnya,
kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Belum sampai setahun usia pernikahan
itu, terkuaklah kebenaran bahwa suami Bu Elis ternyata memalsukan statusnya, ia
belum bercerai dari istrinya. Wanita itu datang jauh-jauh dari Solo, ketika
suami Bu Elis sedang keluar kota.
Masih
muda dan cantik, dengan keanggunan wanita jawa pada umumnya. Usia wanita itu tampaknya
tak terpaut jauh darinya. Dia datang, tidak dengan marah-marah. Tidak
berteriak-teriak, memaki-maki, atau mengamuk histeris. Ia hanya duduk,
berbicara dengan perlahan. Matanya sayu. Suaranya lembut dan tenang. Hanya air
matanya yang tidak berhenti mengalir. Mengalir dengan sendirinya seakan
mewakili setiap penderitaan yang telah ia rasakan.
Ia
menceritakan pertemuannya dengan sang suami di sebuah universitas ternama di
Yogyakarta. Bagaimana mereka kemudian berpacaran, lalu menikah. Lalu merintis
usaha batik dari nol. Lalu memiliki anak-anak yang lucu-lucu. Semuanya sangat
membahagiakan, sampai ketika suaminya mulai berubah sikap, sekitar setahun yang
lalu.
Bu
Elis hanya terdiam menyimak. Air matanya sudah mengalir sejak tadi. Setiap kata
yang diucapkan wanita itu bagaikan batu berton-ton yang menimpa Bu Elis. Maka
demi wanita yang meminta suaminya dikembalikan itu, dan empat orang anak yang
masih membutuhkan ayah mereka, Bu Elis mengakhiri pernikahannya dengan hati dipenuhi
luka.
Mendengar
cerita itu, Bu Dini ikut merasa pedih. Lebih pedih lagi sekarang, ketika
didengarnya teman-teman yang lain membicarakan Bu Elis sedemikian rupa. Jika ia
tak terlanjur berjanji mengunci mulutnya rapat-rapat, tentulah ia sudah meralat
semua perkataan Bu Sulis dan Bu Meta.
“Masa
iya sih Bu,” gumam Bu Ningsih. “Sepertinya dia perempuan baik-baik lho.”
Suaranya terdengar sedih.
“Ya…
Begitulah hidup, Bu Ningsih,” ucap Bu Meta. “Kadang orang yang kelihatan baik,
ternyata buruk di dalamnya.”
“Kita
nggak bisa menghakimi begitu, Ibu-Ibu,” ucap Bu Dini akhirnya. Ia tak tahan
lagi. “Toh kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga mereka.”
Bu Meta merengut tak senang.
Bu Meta merengut tak senang.
“Iya,
lagipula sekarang banyak berita hoax,”
Bu Lela menambahkan.
“Ini
mah bukan hoax, Bu,” seru Bu Sulis
yakin. “Valid. Sumbernya bisa dipercaya.”
Bu
Dini heran bagaimana mungkin kabar dari seorang tetangga yang bersaudara dengan
tetangganya seseorang yang lainnya, bisa disebut valid. Merunutnya saja membuat
ia merasa pening. Namun ia diam saja.
“Iya…
Lagipula, belum tentu Bu Elis yang salah, bukan?” ucap Bu Ningsih pelan. “Bisa saja
karena si laki-lakinya yang menipu, misalnya. Atau karena si istri pertamanya
galak, jadi laki-laki itu mencari pelarian di tempat lain.”
“Nggak
percayaan amat sih, Bu Ningsih,” gerutu Bu Meta. “Harusnya sih ya, kalau sudah
tahu si laki-laki sudah punya istri, ya jangan mau dong.”
“Sudahlah
Ibu-Ibu,” Bu Lela menimpali. “Kok kita jadi membicarakan aib teman sendiri.”
“Lho,
kan setidaknya kita jadi tahu, dengan orang yang bagaimana kita bergaul, Bu
Lela,” sahut Bu Meta sengit.
Bu
Dini merasa suasana akan sedikit memanas jika tidak segera diselamatkan. Ia
kembali menarik napas panjang, lalu tersenyum selebar mungkin dan berkata,
“Sambil menunggu ibu-ibu yang lain, kita makan duluan saja yuk. Itu sudah saya
siapkan makanannya di ruang tengah.”
“Iya,
yuk kita makan. Sudah lapar nih,” sahut Bu Lela senang.
Ibu-ibu
yang lain mengikuti. Melihat daun pisang dihamparkan di ruang tengah, mereka
berseru girang.
“Waduh,
Bu Dini, ngeliwet nih? Mana ada
favoritku lagi, si kancing levi’s. Bisa gagal total rencana diet saya, Bu,”
seru Bu Ningsih disambut tawa yang lainnya.
“Udah,
nggak usah mikir timbangan,” sahut Bu Sulis, “hajar saja… “
***
Bu
Dini mengangkat wadah-wadah Tupperware
kotor ke dapur. Wati sedang menggulung daun pisang bekas makan ibu-ibu barusan.
Tadi, tak lama setelah acara makan siang di mulai, semakin banyak tamu yang
berdatangan. Orang yang terakhir datang adalah Bu Elis. Ia membayar semua
hutangnya dan meminta maaf karena dua kali menunggak arisan. Ia tengah sibuk
merintis kembali bisnis pakaiannya. Itu sebabnya ia kini jarang ikut senam.
Waktunya habis untuk mengurusi dagangannya, dan anak semata wayangnya. Ia kini
menyewa sebuah kios di pasar untuk menjual baju-baju dagangannya.
“Pasti
hasil memeras suaminya tuh,” Bu Dini sempat mendengar Bu Sulis dan Bu Meta
berbisik-bisik.
Bu
Dini menggeleng sedih, teringat perkataan kedua orang tadi. Ia sungguh tak
habis pikir, mengapa ada orang yang begitu senang berburuk sangka pada orang
lain? Dan yang diburuksangkakan adalah hal yang sama sekali bukan urusannya.
Bu
Dini beranjak untuk membereskan gelas-gelas air mineral yang sudah kosong.
Dilihatnya Wati memasukkan gulungan daun pisang ke dalam trash bag, menyatukannya dengan sampah-sampah lain. Wajahnya
terlihat murung.
“Kamu
kenapa, Wati?” Tanya Bu Dini. “Lapar? Makan dulu sana.”
Wati
menggeleng. “Saya teh sedang sedih
Bu.”
“Sedih
kenapa?”
Wati
diam sebentar. Ia menatap Bu Dini sesaat, lalu kembali memusatkan perhatiannya
pada trash bag. “Itu, Bu. Teman Ibu
yang tadi pakai kerudung merah itu, yang pakai kaca mata hitam ditaruh di
jidat. Siapa sih itu Bu? Saya teh meuni
kesel, kalau dengar dia bicara.”
“Ooh,
Bu Meta? Memangnya kenapa?”
“Tadi
saya dengar, dia bisik-bisik sama temannya. Dia bilang, orang kaya seperti Bu
Dini kok ngasih suguhannya seperti ini. Nasi liwet, ikan asin. Pelit banget.”
“Oh
ya?” Tanya Bu Dini. Alisnya terangkat.
Wati
mengangguk sedih. “Padahal, harusnya apapun yang disuguhin sama tuan rumah,
harusnya berterima kasih ya Bu. Makanan sebanyak ini, masa masih dibilang
pelit? Apa semua orang kota seperti itu Bu?”
“Ya
nggak juga, Wati. Kamu lihat kan tadi, Bu Ningsih, Bu Lela, dan yang lainnya.
Masih banyak kok ibu-ibu yang baik. Lagian maksud saya bikin nasi liwet itu kan
karena bisa dinikmati sambil ngeriung,
biar lebih akrab begitu. Tapi ya…mungkin memang kurang cocok untuk ibu-ibu
ini.”
“Ah
enggak Bu, saya lihat tadi ibu-ibu yang lain enak banget makannya. Malahan pada
nambah. Bu siapa itu tadi, Bu? Bu Meta? Dia juga lahap banget makannya. Cuma
sayang aja, nggg…” Wati tidak meneruskan kata-katanya.
“Sayang
kenapa?”
“Anu
Bu… Mulutnya jahat,” jawab Wati pelan.
Bu
Dini tersenyum. Ia masih mengingat jelas kata-kata Bu Meta tadi: setidaknya kita jadi tahu, dengan orang yang
bagaimana kita bergaul?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar