Kamis, 16 November 2017

ARISAN





            Bu Dini sibuk sekali merapikan rumahnya sejak pagi. Rumah yang biasanya memang sudah rapi itu, ia bersihkan dengan teliti. Kemarin ia sudah menyuruh Wati, asistennya, mengganti karpet dan gorden dengan yang bersih.
            Rumput di halaman depan sudah dipotong, jendela-jendela dilap hingga berkilau, teras rumah sudah dipel hingga bersih bersinar sampai-sampai kucing yang lewat pun bisa bercermin di atasnya. Setiap sudut rumahnya sudah dibersihkan dengan sempurna. Bukan karena akan kedatangan ibu mertua, melainkan karena siang nanti ia mendapat giliran menjamu teman-teman arisannya.
            Mulanya, Bu Dini ikut arisan ini hanya untuk menjalin silaturahim dengan teman-temannya satu klub senam. Lalu ia berpikir, arisan ini sebenarnya hitung-hitung menabung juga. Untuk seorang ibu rumah tangga seperti dirinya, menabung terbilang cukup sulit. Ada sedikit sisa uang belanja, si sulung minta dibelikan gamis baru untuk mengaji. Atau si tengah minta tas baru karena tas lamanya sudah jebol, tak mampu menahan beratnya buku-buku yang harus dibawa anak sekolah zaman sekarang. Atau membelikan kado teman si bungsu yang berulang tahun di TK. Atau keperluan mendadak saat suaminya sedang dinas keluar kota, seperti mesin pompa air rusak, keran bocor, saluran air mampet, genting bocor, dan lain-lain.
Maka bagi Bu Dini, jika ia menginginkan barang-barang tertentu seperti oven yang lebih besar padahal oven lamanya yang mungil masih bisa dipakai, pernak-pernik untuk mendekorasi rumah, bunga-bunga anggrek untuk melengkapi koleksinya, maka saat mendapat uang arisanlah ia dapat mewujudkan keinginannya dengan leluasa. Seperti kemarin misalnya, Bu Dini dan suaminya sudah berencana untuk membeli sepeda lipat agar mereka dapat bersepeda setiap akhir pekan bersama anak-anak. Namun tak disangka-sangka, uang yang sudah direncanakan itu akhirnya terpakai untuk berobat si sulung yang terkena typus. Namun tak lama kemudian Bu Dini mendapat uang arisan, dan mereka segera membeli sepeda lipat impian itu.
Walaupun suaminya pernah mengutarakan ketidaksukaannya pada forum arisan yang kebanyakan berubah menjadi sarana bergosip dan ajang pamer, namun ia cukup memahami keinginan Bu Dini untuk dapat menabung. Ia berpesan agar Bu Dini tidak terlibat terlalu jauh jika arisan-arisan tersebut hanya membawa dampak buruk.
            Maka hari itu, dengan bantuan Wati, Bu Dini menyiapkan aneka hidangan untuk menjamu teman-temannya siang nanti. Demi kelancaran acaranya itu pula, Bu Dini meminta suaminya mengajak anak-anak ke toko buku. Tujuannya jelas, agar anak-anak tidak merecoki arisan nanti.
            Bu Dini pernah menghadiri arisan RT di lingkungan kompleknya, di mana sang tuan rumah menjamu tamunya dengan nasi liwet khas sunda. Sederhana saja menunya, nasi liwet yang bertabur ikan teri di atasnya, ditemani sambal terasi yang pedas menggigit, ikan asin peda, tahu tempe goreng, lalapan, dan tak lupa bintang utamanya, jengkol goreng. Yang lebih istimewa, mereka menikmati hidangan itu dengan cara lesehan, di atas hamparan daun pisang. Menu tradisional yang ternyata tak lekang digerus zaman. Para tamu terlihat sangat menikmati hidangan dan terkesan dengan cara penyajiannya.
            Berdasarkan pengalaman itulah, Bu Dini ingin juga menyajikan menu serupa dalam arisan kali ini. Nasi liwet sunda, dengan berbagai pelengkapnya. Ia sempatkan juga membuat sop buah sebagai hidangan penutup. Untuk appetizernya, ia sudah memesan sosis solo dan risoles isi smoked beef, keju dan mayonnaise, ke tetangga yang sering menerima pesanan kue basah.
            “Aduuh Ibu, meuni resep ih, ini mah seperti di kampung saya, di Cianjur” seru Wati dengan mata berbinar-binar. “Memangnya nggak apa-apa gitu Bu, orang kota dikasih makanan seperti ini?”
            “Nggak apa-apa, Wati,” sahut Bu Dini. “justru ini teh sedang nge-trend. Hal-hal yang berbau kampung begini malahan sedang dicari-cari sekarang. Kata orang, ini namanya kekinian.”
            “Oooh, jadi ini yang namanya kekinian,” Wati mengulangi.
            Bu Dini tersenyum geli melihat ekspresi Wati yang polos.
***
            Siang hari, satu persatu tamu berdatangan. Obrolan meluncur dan meluas dengan sendirinya. Mereka memuji rumah Bu Dini yang luas dan rapi sempurna. Membanding-bandingkannya dengan foto rumah-rumah cantik yang marak di instagram. Pasti dari sana kan, Bu Dini mendapatkan ide untuk menata rumah bergaya Skandinavia begini? Tanya seseorang. Bu Dini mengiyakan.
Ada yang menanyakan ke mana perginya anak-anak, kok rumah terlihat sepi. Ada pula yang bertanya apakah ada tetangga Bu Dini yang ingin mengontrakkan rumahnya. Ia sedang mencari kontrakan dan tertarik dengan lingkungan komplek Bu Dini yang tenang.
            “Kalau di perumahanku itu, Bu Dini, nggak pagi, siang, sore, ruameee betul sama orang jualan. Yang rotilah, ketoprak, tahu, bubur…” ujar Bu Ningsih. “Kita habis nyuci, beres-beres rumah, pingin rasanya tidur siang sebentar saja. Eh, baru ngeliyep lima menitan sudah ada suara ting ting ting, tukang bakso.” Ibu-ibu yang lain tertawa.
Bu Ningsih melanjutkan, “Belum lagi kalau sore, anakku sama anak-anak tetangga main bola di depan rumah, berisiknya minta ampun. Makanya nanti habis kontrakan bulan depan, saya maunya pindah, nggak di situ lagi.”
            “Padahal enak lho Bu, banyak penjual makanan yang lewat,” ujar Bu Dini, “saya saja di sini kalau butuh apa-apa harus pakai motor, karena jauh dari warung.”
            “Ada enaknya, ada nggak enaknya,” timpal Bu Lela. “Enaknya komplek kayak Bu Dini ini, sepi, enak buat istirahat, anak-anak juga bisa main dengan aman karena nggak banyak kendaraan yang lalu lalang. Tapi ya itu, mau cari makanan agak susah.”
            “Nanti deh ya, coba saya tanya-tanya satpam, barangkali ada rumah yang lagi dikontrakkan,” kata Bu Dini.
            “Iya Bu, tolong ya,” sahut Bu Ningsih.
            “Ayo sambil dicicipi kuenya, Ibu-Ibu,” Bu Dini mempersilakan.
            “Dibuka saja yuk, arisannya,” saran Bu Meta yang sejak tadi diam menyimak obrolan. Diambilnya sepotong sosis solo.
            “Sebentar Bu, masih banyak yang belum datang nih,” sahut Bu Lela sang bendahara. Ia memeriksa buku catatannya.
            “Bu Elis mau datang tidak? Dia belum bayar arisan yang bulan lalu kan?” Tanya Bu Meta.
            Bu Lela mengangguk “Dua bulan dia belum bayar. Dengan yang sekarang jadi tiga bulan.”
            “Begitu tuh, kelakuannya, kalau sudah dapat duluan di awal arisan. Yang berikutnya jadi tidak pernah datang. Tidak menitipkan uang juga.” Ujar Bu Meta kesal.
            Ibu-ibu yang lain diam. Beberapa diantaranya sibuk dengan camilan.
            “Ini enak lho, Bu Dini,” ucap Bu Ningsih, menunjukkan risoles mayonnaise di tangannya. “Bikin sendiri?”
            Bu Dini menggeleng. “Saya pesan di tetangga, Bu.”
            “Bu Elis itu sepertinya sudah jarang datang senam lagi ya,” kata Bu Lela. “Rasanya saya jarang lihat di tempat senam. Kalaupun bertemu sepertinya dia selalu buru-buru pulang.”
            “Kita datangi saja dia yuk, ke rumahnya,” saran Bu Meta.
            “Nggak enak ah, Bu. Kesannya seperti kita ini mau nagih hutang.” Ujar Bu Ningsih.
            “Lho, kan memang iya, sudah tiga kali tidak bayar arisan, itu hutang namanya,” sahut Bu Meta sengit. “Kasihan yang belum dapat arisan kan, Bu.”
            “Mungkin dia lagi ada masalah ya,” ucap Bu Sulis. “Ini sebenarnya rahasia. Jangan bilang-bilang kalau kalian tahu dari aku, ya…”
            “Apa tuh, Bu Sulis?” Tanya Bu Lela.
            Bu Sulis mencondongkan badannya ke depan, lalu berbicara dengan suara rendah, dengan gaya seperti penggosip ulung. “Bu Elis itu kan istri kedua. Mungkin dia ada masalah sama suaminya atau istri pertama suaminya, kita nggak tahu pastinya sih. Tapi memang belakangan ini dia jarang ada di rumah. Rumahnya sering kosong. Mungkin dia ribut-ribut sama si istri tua ya. Tetanggaku kan ada yang saudaranya tetanggaan sama Bu Elis, dia bilang begitu.”
            Ibu-ibu yang lain saling berpandangan, terkejut dengan informasi baru itu. Bu Lela mengetuk-ngetukkan pulpennya ke buku catatan. Bu Ningsih hanya diam, memandangi risoles di tangannya yang tinggal sepotong. Spertinya ia kehilangan selera untuk menyantap potongan terakhir itu. Bu Sulis terlihat puas setelah menyampaikan berita besar tadi.
Bu Meta mengerutkan alisnya dengan raut wajah tidak senang. “Pelakor rupanya,” ujarnya dingin.
            Bu Sulis mengangkat bahu.
            “Apa itu, pelakor?” Tanya Bu Ningsih.
            “Perebut laki orang,” sahut Bu Sulis cepat.
            Bu Dini menarik napas panjang. Segala yang ditakutkannya kini terjadi. Arisan ini telah menjadi forum untuk menggunjingkan teman sendiri. Bu Dini sudah tahu berita mengenai Bu Elis itu sejak lama. Bukan dari tetangga yang bersaudara dengan siapanya Bu Elis, melainkan dari Bu Elis sendiri.
Di suatu sore yang diselimuti hujan deras, saat ia sedang mengantre di klinik tempat praktek dokter anak terdekat, membawa anak bungsunya yang batuk tak sembuh-sembuh. Bu Dini bertemu Bu Elis yang tengah menunggu dengan wajah pucat. Rupa-rupanya anak semata wayang Bu Elis sudah tiga hari mengalami demam tinggi. Bawa saja ke rumah sakit supaya segera ditangani Bu, saran Bu Dini. Bu Elis menggeleng. Dia tidak punya asuransi, katanya. Ayahnya ke mana? Tanya Bu Dini. Bu Elis terdiam sesaat. Lalu entah karena sedih, entah karena lelah menanggung beban demikian berat, akhirnya ia bercerita pada Bu Dini. Dengan berurai air mata.
Cerita sesungguhnya mengenai Bu Elis dan suaminya tidaklah benar-benar seheboh yang dipikirkan teman-temannya. Bu Elis seorang janda yang ditinggal suaminya meninggal karena sakit jantung. Ia lantas menghidupi anaknya dengan berjualan pakaian, daster, baju-baju anak, gamis, kerudung, dari rumah ke rumah. Kemudian ketika sedang kulakan barang dagangan, ia bertemu kawan lamanya semasa SMA. Mantan kekasih, lebih tepatnya. Si Pria ini ternyata baru saja berpisah dari istrinya. Singkat cerita, Bu Elis dan lelaki tersebut menikah. Suaminya adalah seorang pengusaha batik yang cukup sering bepergian keluar kota. Kehidupan Bu Elis membaik. Mereka membeli sebuah rumah di daerah Depok sini.
Sayangnya, kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Belum sampai setahun usia pernikahan itu, terkuaklah kebenaran bahwa suami Bu Elis ternyata memalsukan statusnya, ia belum bercerai dari istrinya. Wanita itu datang jauh-jauh dari Solo, ketika suami Bu Elis sedang keluar kota.
Masih muda dan cantik, dengan keanggunan wanita jawa pada umumnya. Usia wanita itu tampaknya tak terpaut jauh darinya. Dia datang, tidak dengan marah-marah. Tidak berteriak-teriak, memaki-maki, atau mengamuk histeris. Ia hanya duduk, berbicara dengan perlahan. Matanya sayu. Suaranya lembut dan tenang. Hanya air matanya yang tidak berhenti mengalir. Mengalir dengan sendirinya seakan mewakili setiap penderitaan yang telah ia rasakan.
Ia menceritakan pertemuannya dengan sang suami di sebuah universitas ternama di Yogyakarta. Bagaimana mereka kemudian berpacaran, lalu menikah. Lalu merintis usaha batik dari nol. Lalu memiliki anak-anak yang lucu-lucu. Semuanya sangat membahagiakan, sampai ketika suaminya mulai berubah sikap, sekitar setahun yang lalu.
Bu Elis hanya terdiam menyimak. Air matanya sudah mengalir sejak tadi. Setiap kata yang diucapkan wanita itu bagaikan batu berton-ton yang menimpa Bu Elis. Maka demi wanita yang meminta suaminya dikembalikan itu, dan empat orang anak yang masih membutuhkan ayah mereka, Bu Elis mengakhiri pernikahannya dengan hati dipenuhi luka.
Mendengar cerita itu, Bu Dini ikut merasa pedih. Lebih pedih lagi sekarang, ketika didengarnya teman-teman yang lain membicarakan Bu Elis sedemikian rupa. Jika ia tak terlanjur berjanji mengunci mulutnya rapat-rapat, tentulah ia sudah meralat semua perkataan Bu Sulis dan Bu Meta.
“Masa iya sih Bu,” gumam Bu Ningsih. “Sepertinya dia perempuan baik-baik lho.” Suaranya terdengar sedih.
“Ya… Begitulah hidup, Bu Ningsih,” ucap Bu Meta. “Kadang orang yang kelihatan baik, ternyata buruk di dalamnya.”
“Kita nggak bisa menghakimi begitu, Ibu-Ibu,” ucap Bu Dini akhirnya. Ia tak tahan lagi. “Toh kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan keluarga mereka.”
            Bu Meta merengut tak senang.
“Iya, lagipula sekarang banyak berita hoax,” Bu Lela menambahkan.
“Ini mah bukan hoax, Bu,” seru Bu Sulis yakin. “Valid. Sumbernya bisa dipercaya.”
Bu Dini heran bagaimana mungkin kabar dari seorang tetangga yang bersaudara dengan tetangganya seseorang yang lainnya, bisa disebut valid. Merunutnya saja membuat ia merasa pening. Namun ia diam saja.
“Iya… Lagipula, belum tentu Bu Elis yang salah, bukan?” ucap Bu Ningsih pelan. “Bisa saja karena si laki-lakinya yang menipu, misalnya. Atau karena si istri pertamanya galak, jadi laki-laki itu mencari pelarian di tempat lain.”
“Nggak percayaan amat sih, Bu Ningsih,” gerutu Bu Meta. “Harusnya sih ya, kalau sudah tahu si laki-laki sudah punya istri, ya jangan mau dong.”
“Sudahlah Ibu-Ibu,” Bu Lela menimpali. “Kok kita jadi membicarakan aib teman sendiri.”
“Lho, kan setidaknya kita jadi tahu, dengan orang yang bagaimana kita bergaul, Bu Lela,” sahut Bu Meta sengit.
Bu Dini merasa suasana akan sedikit memanas jika tidak segera diselamatkan. Ia kembali menarik napas panjang, lalu tersenyum selebar mungkin dan berkata, “Sambil menunggu ibu-ibu yang lain, kita makan duluan saja yuk. Itu sudah saya siapkan makanannya di ruang tengah.”
“Iya, yuk kita makan. Sudah lapar nih,” sahut Bu Lela senang.
Ibu-ibu yang lain mengikuti. Melihat daun pisang dihamparkan di ruang tengah, mereka berseru girang.
“Waduh, Bu Dini, ngeliwet nih? Mana ada favoritku lagi, si kancing levi’s. Bisa gagal total rencana diet saya, Bu,” seru Bu Ningsih disambut tawa yang lainnya.
“Udah, nggak usah mikir timbangan,” sahut Bu Sulis, “hajar saja… “
***

Bu Dini mengangkat wadah-wadah Tupperware kotor ke dapur. Wati sedang menggulung daun pisang bekas makan ibu-ibu barusan. Tadi, tak lama setelah acara makan siang di mulai, semakin banyak tamu yang berdatangan. Orang yang terakhir datang adalah Bu Elis. Ia membayar semua hutangnya dan meminta maaf karena dua kali menunggak arisan. Ia tengah sibuk merintis kembali bisnis pakaiannya. Itu sebabnya ia kini jarang ikut senam. Waktunya habis untuk mengurusi dagangannya, dan anak semata wayangnya. Ia kini menyewa sebuah kios di pasar untuk menjual baju-baju dagangannya.
“Pasti hasil memeras suaminya tuh,” Bu Dini sempat mendengar Bu Sulis dan Bu Meta berbisik-bisik.
Bu Dini menggeleng sedih, teringat perkataan kedua orang tadi. Ia sungguh tak habis pikir, mengapa ada orang yang begitu senang berburuk sangka pada orang lain? Dan yang diburuksangkakan adalah hal yang sama sekali bukan urusannya.
Bu Dini beranjak untuk membereskan gelas-gelas air mineral yang sudah kosong. Dilihatnya Wati memasukkan gulungan daun pisang ke dalam trash bag, menyatukannya dengan sampah-sampah lain. Wajahnya terlihat murung.
“Kamu kenapa, Wati?” Tanya Bu Dini. “Lapar? Makan dulu sana.”
Wati menggeleng. “Saya teh sedang sedih Bu.”
“Sedih kenapa?”
Wati diam sebentar. Ia menatap Bu Dini sesaat, lalu kembali memusatkan perhatiannya pada trash bag. “Itu, Bu. Teman Ibu yang tadi pakai kerudung merah itu, yang pakai kaca mata hitam ditaruh di jidat. Siapa sih itu Bu? Saya teh meuni kesel, kalau dengar dia bicara.”
“Ooh, Bu Meta? Memangnya kenapa?”
“Tadi saya dengar, dia bisik-bisik sama temannya. Dia bilang, orang kaya seperti Bu Dini kok ngasih suguhannya seperti ini. Nasi liwet, ikan asin. Pelit banget.”
“Oh ya?” Tanya Bu Dini. Alisnya terangkat.
Wati mengangguk sedih. “Padahal, harusnya apapun yang disuguhin sama tuan rumah, harusnya berterima kasih ya Bu. Makanan sebanyak ini, masa masih dibilang pelit? Apa semua orang kota seperti itu Bu?”
“Ya nggak juga, Wati. Kamu lihat kan tadi, Bu Ningsih, Bu Lela, dan yang lainnya. Masih banyak kok ibu-ibu yang baik. Lagian maksud saya bikin nasi liwet itu kan karena bisa dinikmati sambil ngeriung, biar lebih akrab begitu. Tapi ya…mungkin memang kurang cocok untuk ibu-ibu ini.”
“Ah enggak Bu, saya lihat tadi ibu-ibu yang lain enak banget makannya. Malahan pada nambah. Bu siapa itu tadi, Bu? Bu Meta? Dia juga lahap banget makannya. Cuma sayang aja, nggg…” Wati tidak meneruskan kata-katanya.
“Sayang kenapa?”
“Anu Bu… Mulutnya jahat,” jawab Wati pelan.
Bu Dini tersenyum. Ia masih mengingat jelas kata-kata Bu Meta tadi: setidaknya kita jadi tahu, dengan orang yang bagaimana kita bergaul?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar