Aku
membaca pesan singkat di telepon genggam dengan malas. Dari nama pengirimnya
saja aku sudah tahu apa yang diinginkannya dariku.
“Mbak,
maaf ya, langsung aja nih, aku mau nanyain, uang seratus ribu yang dulu Mbak
pinjam dariku, kapan mau dikembalikan? Aku lagi perlu banget soalnya. Tolong
kabari aku secepatnya ya Mbak.” Begitu isi pesannya.
Aku mengeluh. Dari mana bisa aku
dapatkan uang untuk membayar hutang itu ya? Hari gajianku dari bekerja menyeterika
pakaian di rumah Bu RW, masih akhir bulan nanti. Ya Tuhan, aku harus mencarinya
di mana? Leni sudah menagih terus sejak dua minggu lalu. Tapi aku benar-benar
tidak punya uang untuk membayar hutangku tempo hari.
Aku menuju dapur, menyiapkan sarapan
pagi sebelum anak-anak berangkat sekolah. Suamiku sudah berangkat sejak subuh
tadi untuk menarik angkot.
Hanya
ada sebutir telur yang tersisa di dapur, jadi aku mengocoknya dan mencampurkan
sedikit tepung agar dadar yang kubuat terlihat lebih tebal. Setelah matang,
kuiris telur dadar itu menjadi dua. Kulihat masih ada dua bungkus mie goreng
instan di atas rak. Aku memasaknya dan menyajikannya bersama nasi dan telur
tadi.
“Kok telurnya cuma setengah, Bu?”
Protes Mira. Mira adalah putri keduaku yang masih duduk di kelas dua sekolah
dasar.
“Sudah jangan protes,” sahutku,
“makan saja apa yang Ibu masak. Sudah untung kita bisa makan telur pagi ini.”
Dila, sulungku, menyikut adiknya.
“Cepetan makan,” bisiknya pada Mira.
Mira masih cemberut. “Aku pingin
banget, sekali-sekali makan spageti, atau pizza, kayak teman-temanku.”
“Teman-temanmu yang mana?” tanyaku.
Rasa-rasanya kebanyakan teman sekolah Mira sama saja kondisi ekonominya dengan
keluarga kami. Banyak orang tua mereka yang satu profesi denganku, menjadi
buruh cuci, tukang setrika, atau asisten rumah tangga. Jadi aku penasaran,
teman-teman yang mana yang dimaksud oleh Mira.
Mira tersenyum malu. “Hehe, cuma
seorang sih. Itu Bu, temanku yang namanya Dinda.”
“Dinda anak pindahan itu?” tanyaku
lagi.
Mira
mengangguk. “Dinda kan orang kaya,” ucap Mira lugu. Ia mulai menyendokkan nasi
ke mulutnya. “Waktu Dinda ulang tahun minggu kemarin, dia bawa pizza banyaaak
banget, terus dibagi-bagi ke teman-teman sekelas, sama guru-guru juga. Enak
banget deh Bu…”
“Kenapa
kamu nggak bawa pulang sedikit?” Tanya Dila. “Curang, makan sendirian.”
“Habis,
aku kan lapar. Tiap anak kan cuma dikasih sepotong,” jawab Mira membela diri.
Cerita
Mira memberiku sebuah ide. Aku tersenyum lega karena telah menemukan jalan
untuk menyelesaikan masalahku.
***
“Jadi
begitu, Mbak,” aku mengakhiri ceritaku pada Santi, ibunya Dinda. “Sebenarnya,
saya malu sampai pinjam-pinjam begini. Tapi ya, namanya kepepet. Saya bingung,
mau minta tolong sama siapa, Mbak.”
Santi
terdiam. Sorot wajahnya terlihat prihatin. “Ya sudah, tunggu sebentar ya, Bu.”
Ia lalu berdiri dan melangkah masuk.
Aku
bersyukur dalam hati. Pagi tadi, setelah berbasa-basi menyapa Santi, aku
menanyakan alamat rumahnya. Tanpa curiga ia memberitahuku. Lalu sore ini aku
datang ke rumahnya, dengan wajah yang kubuat sememelas mungkin. Aku ceritakan
padanya betapa putus asanya diriku, karena sulungku yang duduk di kelas enam
belum membeli berbagai buku untuk persiapan menjelang ujian. Sementara guru
terus menerus menyindir anak-anak yang belum mempunyai buku. Aku mencoba
meminjam uang sana-sini, namun tak ada yang mau membantu.
Santi menyimak ceritaku dengan penuh
simpati. Mamanya Mira butuh berapa? Tanyanya. Dua ratus ribu saja Mbak,
jawabku.
Santi keluar ke ruang tamu dengan
membawa lembaran uang. Diulurkannya uang itu padaku.
“Makasih banyak ya, Mbak Santi,”
ucapku penuh haru. “Saya janji, akhir bulan setelah saya dapat gaji nanti,
pasti langsung saya bayar.”
Santi mengangguk dan tersenyum.
“Iya, tenang saja, Mama Mira.”
Aku segera pamit dan berlalu dari
rumahnya. Hatiku dibanjiri rasa lega. Dengan uang pinjaman ini, aku bisa
membayar hutangku pada Leni, dan membungkam mulutnya yang bawel itu. Aku tidak
benar-benar jujur waktu berkata pada Santi bahwa aku meminjam uang untuk
membayar buku-buku Dila. Sebenarnya prioritasku adalah membayar hutang pada
Leni. Tapi memang, aku harus membayar buku Dila juga, sekitar lima puluh ribu
rupiah. Jadi aku tidak benar-benar berbohong, bukan? Dengan begitu maka aku
tidak perlu terlalu merasa bersalah pada Santi. Masih ada sisa uang yang bisa
kupakai untuk membeli daging ayam atau ikan di pasar. Kasihan Mira yang
mengeluh karena makan telur dan mi instan setiap hari.
Kadang kupikir betapa melelahkannya
hidupku. Penghasilan suamiku dari menarik angkot tidaklah seberapa. Apalagi
sejak maraknya ojek online, yang jauh
lebih diminati masyarakat. Itu membuat pendapatan suamiku jauh menurun. Sementara
kebutuhan hidup kami tidak berkurang. Membayar kontrakan, listrik, dan makan
sehari-hari. Ada juga kebutuhan mendadak seperti anak-anak harus ikut kegiatan
berenang, atau berkemah, atau sakit. Apalagi kini Dila sudah kelas enam,
semakin banyak kebutuhan sekolahnya untuk persiapan ujian kelulusan dan
perpisahan nanti.
Itu
tadi semuanya hanya hal-hal yang pokok, yang tidak bisa kami hindari. Yang
kerap kali menambah masalah, sering kali teman-temanku membawa barang-barang
untuk dijual di sekolah, seperti baju-baju anak, seprai, daster, gamis,
kerudung, dan yang lainnya. Melihat barang-barang yang menarik itu, wanita mana
yang tidak tergiur? Apalagi teman-temanku itu berjualan dengan sistem yang sama,
yaitu ambil dulu barangnya, lalu bayar belakangan alias ngutang. Kelihatan
sangat mudah saat aku mengambil barang, baru kemudian mulai membuat pening saat
tiba waktu untuk membayar semuanya. Semakin bertambah saja bebanku jika
demikian. Tak punya cara lain, jika sudah jatuh tempo, aku mencari-cari hutang
yang baru untuk membayar hutangku yang lama. Gali lubang tutup lubang.
Melelahkan memang. Tapi jika tidak begitu, keluarga kami benar-benar tidak bisa
memiliki barang apapun.
***
“Mbak!
Mbak Nur,” seseorang memanggilku dari belakang. Aku menoleh dan mendapati Linda
tengah berjalan tergopoh-gopoh mendatangiku.
“Eh,
Lin, ada apa?” Tanyaku pura-pura polos.
“Itu,
gamis yang dulu Mbak Nur ambil, kan baru bayar setengah ya? Ini udah dua bulan
nih, udah harus bayar yang setengahnya lagi.” Linda menjelaskan.
“Aku
belum ada uang, Lin,” ujarku pelan. Kumanipulasi ekspresi wajahku sedemikian
rupa agar ia merasa iba.
“Yah,
terus gimana dong Mbak, aku kan juga butuh buat modal belanja lagi.”
“Nanti
deh ya, akhir bulan. Tunggu aku gajian,” pintaku.
Linda
memandangiku beberapa saat, lalu menarik napas panjang. “Ya udah deh, bener ya
akhir bulan?”
“Iya,
aku janji,” sahutku cepat. Detik itu juga aku ingat bahwa aku sudah menjanjikan
gajiku di akhir bulan nanti untuk membayar hutangku pada Santi. Tapi itu urusan
belakangan. Yang penting sekarang aku bisa lolos dahulu dari Linda.
Setelah
Linda pergi, aku berjalan cepat-cepat menuju rumahku. Aku memutar otak,
bagaimana caranya mendapatkan uang untuk melunasi hutangku. Hutang gamisku pada
Linda masih seratus lima puluh ribu lagi. Belum lagi hutangku pada Santi. Tapi
Santi kelihatannya orang yang baik. Lagipula dia kelihatan berkecukupan.
Mungkin ia bisa memaklumi jika aku minta untuk menangguhkan dahulu pembayaran
hutangku padanya.
***
Akhir
bulan tiba. Seperti yang sudah kujanjikan, sore nanti aku akan ke rumah Linda
untuk melunasi hutangku. Tinggal mencari alasan untuk menangguhkan pembayaran
hutangku pada Santi.
Aku
bergegas pulang dari rumah bu RW, dengan gaji di sakuku. Aku harus mampir ke
warung Bu Lilis, membayar hutang beras dan minyak goreng minggu lalu. Aku baru
saja memasuki halaman rumah Bu Lilis, ketika tiba-tiba seseorang menggamit
lenganku.
“Ne…Neneng,”
seruku kaget. Aku tidak melihat dia berdiri di sana tadi.
“Akhirnya
ketemu juga, sudah lama aku mencari-cari kamu, tahu nggak?” ucapnya galak. “Aku
cari ke rumahmu, selalu tertutup. Ku cari ke sekolah, selalu kabur duluan.
Kapan kamu mau bayar hutangmu? Kamu ingat sudah berapa bulan kamu main
kucing-kucingan sama aku?”
Tentu
saja aku ingat, aku pernah meminjam uangnya untuk membayar DP sepeda motor
beberapa bulan lalu. Waktu itu aku dan suamiku ingin mengkredit motor agar
dapat digunakan untuk mengojek online.
Sebenarnya, akulah yang memaksa suamiku. Gaji seorang pengojek online tampaknya lebih menjanjikan dari
pada supir angkot. Jadi aku merecokinya setiap hari, sampai akhirnya ia
menyerah dan setuju untuk mengambil kredit motor. Mulanya, kami bisa membayar
cicilan dengan rutin, tetapi entah bagaimana, makin lama kami makin tidak
sanggup membayar cicilannya. Setelah menunggak beberapa bulan, akhirnya sepeda
motor itu ditarik kembali.
Neneng
melihatku memasukkan tangan ke dalam saku.
“Kamu
baru saja gajian dari Bu RW kan?” tanyanya dengan nanda menuntut. “Ayo, bayar
hutangmu sekarang!”
Aku
menggeleng ketakutan. Kubenamkan tanganku dalam saku semakin dalam.
Neneng
naik pitam. Ia mencengkeram tanganku dan memaksa mengeluarkan tanganku dari
saku.
“Nah
benar kan,” Neneng berseru senang, melihat lembar-lembar uang yang kugenggam.
“Kamu mau beralasan apa lagi? Kamu mau berurusan dengan polisi?”
Aku
menggeleng kuat-kuat. Apa jadinya kalau ia benar-benar membawaku ke polisi?
Bagaimana dengan Dila dan Mira nanti?
Neneng
merebut uangku dengan kasar. Dihitungnya lembaran-lembaran uang itu, lalu ia
melihatku dengan marah. “Cuma segini?”
Aku
mengangguk. Memang hanya empat ratus ribu, gajiku dari menyetrika baju di rumah
Bu RW setiap bulannya.
“Kamu
ini ya, kalau sudah tahu nggak punya uang, jangan kebanyakan gaya dong!
Ternyata gajimu cuma segini! Tapi gayamu itu, hutang sana, hutang sini. Kredit
motor, kredit panci, baju, segala macam. Kebanyakan gaya! Mau kamu bayar pakai
apa?!”
Mukaku
terasa panas. Mungkin aku memang salah, tapi ia tidak berhak mempermalukan aku
seperti ini di depan umum. Di depan warung Bu Lilis, di tengah keramaian orang.
Aku sungguh berharap tanah yang kuinjak
ini terbelah agar aku bisa menghilang ke dalamnya.
“Ini
masih kurang! Aku kasih kamu waktu seminggu lagi, dan semuanya harus lunas. Aku
nggak mau tahu. Awas saja sampai kamu berani kabur,” ancam Neneng. Ia
memandangiku dari atas sampai bawah, dengan tatapan seperti sedang melihat
tikus tergilas di jalanan.
Sebelum
pergi ia masih sempat mencemoohku, “Banyak gaya sih lu. Makan tuh gaya.”
***
Aku
memasuki rumah dengan perasaan hampa. Kedua kakiku terasa lemas. Aku jatuh terduduk
di kamar. Tak jadi aku membayar hutang beras di warung Bu Lilis. Dan entah
bagaimana aku harus menghadapi Linda nanti. Uangku sudah habis. Belum kutemukan
lagi tempat untuk menggali dan menutup lubang-lubang hutangku. Tak mungkin pula
aku meminta pada suamiku. Penghasilannya hanya cukup untuk membayar sewa
kontrakan dan listrik. Masalah DP motor itu, ia memang pernah berjanji akan
memikirkan cara melunasinya. Tetapi hanya janji-janji saja. Tidak mudah
mengumpulkan uang sebanyak itu dengan penghasilannya yang pas-pasan.
Kupandangi
seisi kamarku yang kecil dan gelap. Awalnya hanya ada sebuah kasur di kamar
ini. Lalu aku membeli sebuah kasur lagi, agar anak-anak bisa tidur dengan lebih
nyaman. Tentu saja secara kredit. Di ujung sana, aku meletakkan sebuah lemari
plastik, penuh sesak menampung baju-baju kami, yang semula hanya disimpan di
dalam kardus. Lemari itu juga kubeli dengan cara kredit.
Pandanganku
beralih ke barang-barang lainnya. Seprai, selimut, baju-baju. Panci-panci di
dapur. Itu semua juga kubeli secara kredit. Mulanya hanya satu macam barang
saja setiap bulan. Lalu entah mengapa, semakin lama jadi semakin banyak barang
yang kubeli secara berhutang. Hidup kami memang pas-pasan. Tetapi apakah salah,
jika aku ingin memiliki barang-barang yang bagus, seperti orang lain?
Kepalaku
sakit. Aku hanya ingin berdiam di rumah saja seharian. Saat Dila dan Mira
pulang dari sekolah, aku berpesan pada mereka, jika ada yang mencariku, katakan
saja ibu tidak ada.
“Memangnya
kenapa Bu?” Tanya Mira.
Aku
menggeleng. “Tidak apa-apa,” jawabku.
Sisa
hari itu kuhabiskan dengan berbaring-baring saja di kamar. Kepalaku sakit. Aku
terlalu bingung untuk melakukan apapun.
Pagi
hari ketika terbangun dari tidur, kepalaku masih berdenyut-denyut. Handphone bututku berdenting, menandakan
ada pesan yang masuk. Dari Linda. Sudah bisa kutebak seperti apa isinya.
“Mbak, hari ini bayar gamisnya ya, kan sudah
janji. Nanti aku ke rumahmu.”
Jadi
aku berangkat kerja ke rumah Bu RW pagi-pagi sekali, demi menghindar bertemu
dengan Linda.
Rumah
Bu RW pagi ini sepi. Pak RW, sedang ada kegiatan di kantor kelurahan. Bu RW
tengah sibuk di Posyandu. Kedua anak mereka sudah berangkat ke sekolah. Bu RW
berpesan agar kunci pintu nanti dititipkan pada Bu Sari, tetangga samping
rumahnya.
Bu
RW biasa mencuci pakaiannya sendiri. Ia menggunakan mesin cuci satu tabung, dan
sangat khawatir mesin itu cepat rusak jika dioperasikan oleh orang lain selain
dirinya. Urusan bersih-bersih rumah dan mencuci piring juga ia kerjakan sendiri.
Jadi tugasku di rumah ini hanya menyetrika pakaian. Setelah selesai, pakaian
itu kupisah-pisahkan berdasarkan pemiliknya, lalu ku letakkan di kamar mereka
masing-masing.
Hari
ini, aku tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaanku. Seraya menyetrika,
pikiranku terus melayang pada Linda, Santi, dan Bu Lilis. Juga pada hinaan
Neneng kemarin.
Pagi
ini aku berhasil menghindari Linda. Tapi bagaimana hari berikutnya? Dan
bagaimana pula dengan ancaman Neneng jika minggu depan aku tidak bisa melunasi
hutangku padanya? Kepalaku sungguh sakit memikirkannya. Aku sungguh kehabisan
akal, bagaimana seharusnya aku keluar dari semua masalah ini.
Jam
di ruang tengah Bu RW sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Aku menghembuskan napas
lega, setelah baju terkhir selesai kusetrika. Aku menyusun baju-baju itu
berdasarkan pemiliknya. Baju Rendi dan Nita, anak-anak Bu RW, kumasukkan ke kamar mereka masing-masing. Kamar Nita
sangat bersih dan rapi. Sama seperti ibunya, rupanya dia sangat rajin
membersihkan kamar. Kamar Rendi
sebaliknya. Buku-buku, kaus kaki, raket bulu tangkis, topi dan jaket berserakan
di lantai. Kasurnya acak-acakan. Selimut, bantal, dan guling bergulung-gulung
di atasnya. Aku sedang bertanya-tanya dalam hati apakah aku harus
membereskannya atau tidak, ketika kulihat sesuatu tersembul dari bawah selimut.
Sebuah laptop. Dan sebuah kartu dilapisi plastik berisi sejumlah uang. Kartu
bayaran dengan nama sekolah swasta tempat Rendi dan Nita bersekolah. Jumlahnya
lumayan.
Jantungku
berdegup kencang. Jika aku menjual laptop ini, akan lebih dari cukup untuk
melunasi semua hutangku. Aku tak perlu lagi menghindari Linda dan Santi. Tak
perlu merasa malu lagi pada Bu Lilis. Dan yang terpenting, tak perlu menunduk-nunduk
lagi di depan Neneng. Tapi bagaimana jika mereka menanyaiku, apakah aku melihat
laptop Rendi atau tidak? Tapi, sepengetahuanku, Rendi itu anak yang ceroboh dan
pelupa. Ia pernah dua kali kelihangan handphone-nya.
Kali pertama di sekolah, lalu yang kedua ketika bepergian dengan temannya. Jika
laptop ini hilang, mereka akan menyangka Rendi lupa meletakkannya saat di
sekolah atau di rumah temannya, dan saat itulah laptopnya diambil orang. Yah,
mereka mungkin akan sedikit mencurigaiku juga, tapi toh mereka tak memiliki
bukti untuk menuduhku.
Aku
bergegas ke dapur untuk mencari kantong plastik. Aku membungkus laptop itu
rapat-rapat, dan memasukkannya dalam kantong plastik hitam yang lebih besar. Tak
ketinggalan, kumasukkan pula kartu bayaran sekolah Rendi yang berisi uang. Jika
aku bergegas, tak akan ada seorangpun yang mencurigaiku.
Aku
mengunci pintu depan dengan tergesa-gesa. Ketika berbalik, aku terkejut bukan
kepalang sampai rasanya jantungku mau copot. Bu RW berdiri tepat di depanku!
“Sudah
selesai menyetrikanya, Nur?” ia bertanya ramah seperti biasanya. Namun dalam
kepanikanku, suaranya bagaikan halilintar yang merobek-robek jantungku.
“Kamu
kenapa, kok pucat begitu?” Matanya segera beralih pada bungkusan di tanganku.
“Apa yang kamu bawa itu?” Ia bertanya dengan nada heran.
Aku
terdiam dan menggeleng lemah. Sekujur tubuhku seakan diguyur air es.
“Kamu
bawa apa itu, Nur?”
Ingin
rasanya aku segera kabur. Tapi ia berdiri tepat di hadapanku. Ia mulai curiga
dengan sikapku.
“Boleh
saya lihat? Apa yang kamu bawa itu?”
Melihatku
diam mematung, Bu RW kian mencurigaiku. Diambilnya bungkusan plastik dari
tanganku. Matanya terbelalak. “Kamu mencuri?”
Aku
mencoba mencari alasan. Tapi ia bergerak lebih cepat.
“Saya
tidak bisa memaafkan seorang pencuri, apalagi jika pelakunya adalah orang dekat
saya sendiri.” Bu RW berseru marah.
Ia
menarikku ke dalam rumah. Aku menangis dan berteriak-teriak meminta maaf. Aku
katakan padanya berkali-kali aku khilaf. Beberapa tetangga mulai berdatangan,
mendengar suara ribut-ribut. Aku takut luar biasa. Aku takut mereka akan datang
berbondong-bondong dan memukuliku, seperti yang mereka lakukan pada maling
motor yang tertangkap basah beberapa bulan lalu.
Bu
RW mendorongku ke ruang tamu. “Kamu duduk di sini! Diam di sini sampai saya
panggil Pak RW dan polisi!”
“Jangan
Bu… Jangan,” seruku panik. Aku tak mau dipenjara. “Saya minta maaf, Bu… Saya
khilaf…”
“Ah,
alasan saja kamu,” sergah Bu RW. “Diam di sini sampai polisi datang! Dan jangan
berani-berani kabur ya, di dalam sini kamu aman, tapi kalau kamu kabur, warga
sekampung ini bisa memukuli kamu!”
Aku
tersedu. Tak lama Pak RW datang bersama dua orang polisi. Mereka berbicara
dengan Bu RW. Tapi aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Aku hanya
menangis, menangis, dan menangis. Bayangan Linda, Santi, Neneng, Bu Lilis,
berputar-putar di hadapanku. Lalu muncul bayangan Dila dan Mira. Aku melolong
putus asa. Lalu aku merasa tertarik jauh, jauh sekali dalam lubang hitam yang
sangat dalam yang telah kuciptakan sendiri.
