Jumat, 10 November 2017

KEBON



KEBON

            “Ngebon, Kong?” Tanya Juleha pada Engkong Soleh yang berjalan terbungkuk-bungkuk dengan membawa cangkul di tangannya.
            Si Engkong hanya mengangguk-angguk dan tersenyum.
            Juleha maklum. Apapun yang dikatakan orang pada Engkong Soleh, lelaki tua itu selalu menanggapinya dengan senyum. Pendengarannya memang sudah sangat berkurang. Jika ingin berbicara dengannya, orang harus berada dekat sekali dengannya, seperti orang pacaran.
            Istri Si Engkong, Mak Ijah, acapkali menggodanya. “Si Engkong mah, dibilang mau ditaro di panti jompo juga iya-iya aja, Jul,” katanya. Dan memang Si Engkong hanya tersenyum, melihat Mak Ijah dan Juleha berbicara di depannya. “Tuh, bener kan? Senyum-senyum aja dia mah.”
            Juleha tertawa kecil. “Ih ya jangan Mak, masak bilang begitu. Enggak ya Kong…”
            Si Engkong kembali tersenyum.
            “Hati-hati Kong,” seru Juleha setengah berteriak. Dipandanginya orang tua itu berjalan menjauh.

            Engkong Soleh dan Mak Ijah adalah satu-satunya pasangan lanjut usia yang tinggal di deretan rumah kontrakan tiga petak mereka. Juleha dan suaminya tinggal di kamar yang paling ujung, dekat dengan warung nasi uduk milik Mpok Mila, si induk semang. Tepat di belakang kamar kontrakannya itulah, Engkong Soleh dan Mak Ijah tinggal bersama kedua cucunya.
            Rumah kontrakan itu hanya satu dari sekian banyak bangunan sejenis di daerah Kampung Jati. Tersebar secara acak di antara rumah-rumah sederhana para warga, balai desa, warung-warung sayur, kebun-kebun palawija, dan hamparan lahan tidur yang terabaikan. Jika dilihat dari atas, Kampung Jati hanyalah sekumpulan bangunan tak beraturan, yang tampak kusam namun tegar bertahan. Teramat kontras dengan pemandangan di sebalik tembok tinggi nan panjang di belakangnya, yang berdiri sejak tiga tahun lalu.
            Tepat di belakang Kampung Jati, sebagai imbas dari pembangunan jalan tol yang membuat kampung itu semakin tersentuh peradaban kota, berdiri dengan gagah sebuah perumahan bernuansa modern. Namanya pun keren. Green Valley. Rumah-rumahnya bersinar dengan cat yang masih cemerlang. Kumpulan pepohonan dan bunga-bunga yang tampak asri dan serasi ditanam di berbagai sudut perumahan, dirancang dengan jenius oleh seorang arsitek. Sebuah masjid kecil tampak makmur dengan suara azan lima waktu, dan pengajian anak-anak setiap sore. Seusai mengaji biasanya anak-anak itu bermain terlebih dahulu di play ground yang terletak di samping masjid. Masjid berwarna putih itu bagaikan jantung yang berdenyut di pusat perumahan itu, satu-satunya tempat yang cukup ramai di antara rumah-rumah besar yang sepi. Juleha sering mengagumi arsitektur masjid yang terlihat sederhana namun indah itu. Suara alunan azannya pun merdu, tak seperti azan dari masjid kampung yang hanya dikumandangkan oleh suara serak Haji Syarif yang sudah sepuh.
            Walaupun demikian, berdirinya perumahan Green Valley bisa dibilang memberikan dampak ekonomi yang cukup baik bagi warga Kampung Jati. Tak sedikit dari para wanita kampung itu bekerja sebagai baby sitter atau asisten rumah tangga di rumah-rumah Green Valley. Juleha salah satunya. Ia bekerja sebagai asisten rumah tangga yang bertugas mencuci, menyetrika, membersihkan rumah setiap pagi. Penghasilan suaminya sebagai tukang ojek tidak mencukupi kebutuhan mereka dengan satu anak balita yang masih membutuhkan gizi yang baik untuk tumbuh, dan rumah kontrakan yang harus dibayar sewanya tiap bulan.
            Bu Monik, majikan Juleha adalah seorang ibu rumah tangga yang cukup sibuk. Ia sering bepergian. Mengantar jemput kedua anaknya yang masih duduk di Sekolah Dasar, arisan, fitness, pengajian, kursus membuat kue, mengurus bisnis on-line, perawatan ke salon , dan yang lainnya. Juleha jarang bisa bertemu dengannya lebih dari tiga puluh menit setiap hari. Nyaris tak pernah pula Juleha bisa mengobrol banyak dengan wanita itu. Suami Bu Monik sepertinya adalah seorang manajer di sebuah perusahaan -Juleha pernah melihat kartu namanya- dan selama bekerja di rumah keluarga itu hanya dua kali saja Juleha pernah melihatnya. Suami Bu Monik berkantor di Jakarta, berangkat kerja sebelum matahari terbit, dan tiba di rumah jauh setelah matahari terbenam.
            Pagi ini saat Juleha datang, Bu Monik sedang bersiap mengantar anak -anaknya ke sekolah. Ia berpesan pada Juleha untuk mengunci rumah setelah ia selesai bekerja dan meletakkan kuncinya di tempat biasa.
            “Oh ya, Bi. Itu di dekat kompor ada pempek, nanti bawa aja ya,” Bu Monik menambahkan. “Kemarin saya pesen pempek di Bu Dito, tapi kok rasanya kurang enak. Ikannya nggak kerasa. Revo sama Namira nggak doyan. Sama itu ya, ada nasi sisa di magicom. Bibi bawa aja, nanti kasihkan ke ayam atau apa.”
            “Iya Bu, makasih Bu,” ucap Juleha seraya mengangguk.
            Bu Monik meraih kunci mobil dari atas meja, kemudian berlalu.
Cukup sering Juleha mendapat makanan yang tak diinginkan seperti ini. Ia menerimanya dengan senang hati. Sering ia merasa sedih melihat makanan sisa atau nasi yang sering terbuang percuma di tempat sampah di dapur Bu Monik.
            Juleha beranjak ke belakang untuk mencuci pakaian. Saat melewati dapur dilihatnya pempek dan nasi yang dikatakan Bu Monik tadi. Pempek itu terlihat enak. Ia belum sarapan, dan perutnya terasa lapar. Tapi teringat olehnya wajah Desi anaknya. Desi pasti senang jika tahu ia membawa oleh-oleh yang enak untuknya.

            Sepulang bekerja, Juleha mampir ke warung sayur. Dibelinya sebungkus tempe, cabai, tomat dan terasi. Hari gajian belum tiba, jadi hari ini ia hanya akan membuat sambal dan tempe goreng. Beruntung ada pempek untuk Desi, pemberian Bu Monik tadi.
            Saat Juleha tiba di kontrakan, Desi menyambut dengan gembira. Dedi, suaminya bergegas bersiap untuk bekerja. Begitulah mereka membagi waktu. Suami Juleha menjaga Desi selama ibunya itu bekerja, baru kemudian setelah Juleha pulang pukul sembilan pagi ia berangkat menarik ojek seharian.
            Juleha baru saja hendak masuk rumah ketika Mak Ijah memanggil-manggilnya.
            Juleha menoleh, dilihatnya wanita tua bertubuh gemuk itu berjalan terengah-engah sambil membawa beberapa ikat bayam.
            “Nih, buat Si Desi,” kata Mak Ijah sambil mengulurkan dua ikat bayam yang masih segar. Pastilah Engkong Soleh baru saja memanennya.
            “Ya ampun Mak, banyak amat,” ucap Juleha, merasa tak enak hati. “Dijual aja ke warung napa?”
            “Udah tadi, Si Engkong udah nyimpen di warung, banyak. Ini mah emang sengaja buat kita-kita.” Mak Ijah mendesak Juleha untuk menerimanya.
            “Tapi Mak…”
            “Udah, ambil ini,” ujar Mak Ijah. “Emak mau kasihin ini ke Mpok Mila.” Mak Ijah menunjukkan beberapa ikat bayam lagi di tangannya.
            “Makasih banyak ya Mak,” seru Juleha ketika Mak Ijah buru-buru berlalu.
            “Iya,” sahut Mak Ijah dari kejauhan.
            Juleha menggeleng sedih. Keadaan Mak Ijah dan Engkong Soleh tak lebih baik dari dirinya. Pasangan lanjut usia itu harus mengurus dua cucunya setelah kedua orang tua para bocah itu bercerai. Engkong Soleh menafkahi keluarga itu dengan bercocok tanam. Bukan di kebun yang sungguh-sungguh miliknya tentu. Tapi di lahan kosong di ujung kampung. Lahan yang bertahun-tahun diabaikan itu ditanaminya dengan nangka, pisang, pepaya, singkong, juga bayam dan kangkung. Tangan dingin Engkong Soleh membuat tanaman-tanaman itu tumbuh subur. Saat panen bayam atau kangkung, dijualnya sayur-sayuran itu ke warung. Sebagian dibagi-bagikannya pada tetangga. Begitu pula dengan singkong, pisang, dan yang lainnya.
            Engkong Soleh tak pernah terlalu ambil pusing dengan kondisi ekonomi keluarga itu. Engkong bergantung penuh pada Tuhan, ia pernah berkata begitu pada Juleha. Jika hasil panen yang tak seberapa itu terjual cukup banyak, ia bersyukur. Namun pernah pula singkong-singkong yang sudah siap dipanen, raib keesokan harinya di tangan maling. Belum rejeki kita, ucap Engkong saat itu. Tinggal Mak Ijah yang terisak-isak sedih karena uang kiriman anaknya pun sudah habis. Ia mengandalkan hasil penjualan singkong itu untuk membuat dapur mereka tetap mengepul. Siapa yang tega berbuat sekejam itu pada Engkong Soleh, tak ada yang tahu. Maka di hari yang naas itu, Engkong Soleh, Mak Ijah dan kedua cucunya hanya makan nasi putih. Itupun pemberian Juleha. Mpok Mila yang tak tega melihatnya, mengirimi tempe goreng dan kerupuk.
            Sore harinya, setelah memasak sayur bayam pemberian Mak Ijah, Juleha menggoreng pempek pemberian Bu Monik. Desi menerima pempek hangat yang lezat itu dengan suka cita. Juleha tersenyum melihat kegembiraan buah hatinya. Namun Juleha tak melupakan sesuatu. Disisihkannya beberapa buah pempek, lalu dibawanya ke rumah Mak Ijah.
            “Yaelah Jul, ngapain repot-repot ngirimin pempek segala? Itu kan buat Desi?” ucap Mak Ijah saat Juleha mengulurkan piring berisi pempek padanya.
            “Si Desi mah udah, Mak. Ini buat Si Riski sama adeknya,” sahut Juleha.
            Dua bocah di belakang Mak Ijah melihat dengan tatapan ingin.
            “Lagian Emak sama Engkong sering ngasih saya sayur, sekarang gantian, saya yang ngasih makanan buat Emak. Tapi… Maaf ya Mak, cuma sedikit.”
            “Ya Allah, makasih banyak ya Jul,” ucap Mak Ijah sendu.
            “Sama-sama Mak,” Juleha tersenyum.
***

            Seminggu menjelang lebaran. Suasana mudik sudah tercium di mana-mana. Juleha hendak berangkat ke rumah Bu Monik ketika didengarnya suara Mak Ijah dan Mpok Mila di warung nasi uduk yang sedang tutup selama bulan puasa. Mereka terdengar gembira.
            “Rame amat Mak, pagi-pagi,” seru Juleha menyapa sambil lalu. Namun Mak Ijah memanggilnya mendekat.
            “Jul, sini, mampir bentar napa,” panggil Mak Ijah.
            “Mau kerja, Mak,” sahut Juleha.
            “Sini bentaran aja Jul,” kali ini Mpok Mila yang memanggil.
            Akhirnya Juleha mendekat. “Ada apa sih Mpok, seru amat kayaknya.”
            “Inii, gue jualan baju. Baju-baju anak kayak gini.” Mpok Mila menunjukkan tumpukan plastik yang berisi pakaian beraneka warna. Ditariknya dari tumpukan, sebuah dress cantik berwarna kuning cerah. “Bagus nih buat Si Desi.”
            “Yaelah Mpok, kontrakan aja saya belum bayar,” ucap Juleha pelan.
            Mpok Mila mengibaskan tangannya. “Gampang. Nih ambil dulu barangnya, bayarnya bisa nyicil.”
            Juleha memandangi baju-baju itu. Sudah lama ia tak membelikan baju untuk Desi. Bu Monik kadang memberikan pakaian bekas Namira padanya, namun kadang ingin juga ia membelikan pakaian baru untuk Desi.
            “Eh, malah bengong,” seru Mpok Mila. “Buruan dipilih, ntar keburu yang bagus-bagusnya diambil orang. Tuh, si Emak aja ngambil dua, buat si Riski sama adeknya.” Mpok Mila menunjuk ke arah Mak Ijah. “Murah ini mah, dibandingin elu pergi ke Tanah Abang sendiri, belum lagi ongkosnya, belum panasnya…”
            “Iya Jul, seminggu lagi kan udah lebaran. Lebaran yang lalu Emak kagak bisa beliin si Riski sama adeknya baju baru. Nah sekarang nih, pas bentar lagi nangka sama pepayanya Engkong udah bisa dipanen. Banyak, Jul. Kalo dijual lumayan. Ditambah kiriman dari Emaknya si Riski nanti. Kasian itu bocah berdua kagak pernah punya baju baru,” papar Mak Ijah, diikuti anggukan Mpok Mila.
            “Saya ntar dulu deh Mpok,” ucap Juleha hati-hati. “Saya bilang suami dulu.”
            “Lah, kan elu beli pake duit sendiri,” Mpok Mila terheran-heran. “Elu kerja buat apa, kalo bukan buat nyenengin anak?”
            Juleha meringis. “Iya sih Mpok. Tapi… Kata suami saya, jangan suka ngutang. Nanti hidupnya jadi nggak tenang. Ntar deh Mpok, kalo dapat THR ya, saya pasti beli deh. Soalnya saya juga pengen beliin Si Desi baju baru, cuma ya itu, nggak boleh ngutang.”
            Mpok Mila terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang lalu berkata,  “Ya deh, sono bilang laki lo dulu. Gue doain elu dapet THR yang banyak yak.”
            Juleha tersenyum lebar dan berlalu pergi. Lebaran sudah di depan mata. Tak sabar ia pulang ke kampung halamannya. Bertemu Emak dan Abah. Keluarga suaminya juga tak jauh dari kampung Juleha, karena mereka hanya tetangga desa saja. Jika Bu Monik memberinya THR nanti, selain membelikan baju untuk Desi, ingin pula ia membelikan baju baru untuk Emak dan Abah.
***

            Bu Monik sudah berangkat ke pengajian, saat Juleha selesai mencuci pakaian. Juleha ingin segera menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Besok ia mulai libur, karena keluarga bu Monik akan berangkat mudik ke Yogyakarta. Tadi pagi Bu Monik sudah memberinya uang THR, dan kini ia ingin segera membelanjakannya. Suaminya sudah setuju jika Juleha menggunakan uang THR itu untuk membeli baju baru untuk Desi, Emak dan Abah.
            “Semoga ojek menjelang lebaran ini makin rame ya Jul,” kata suaminya semalam. “Biar aku bisa beliin baju baru juga buat kamu.” Juleha tersenyum mengingatnya.
            Juleha mendekati bak cuci piring. Wajahnya berubah sedih melihat tumpukan piring dan mangkuk di dalamnya. Bukan karena cuciannya banyak, tapi karena di wadah-wadah itu, masih tersisa banyak sekali makanan yang tak dihabiskan saat sahur tadi. Nasi, sayur, potongan kue, dan tulang-tulang ayam yang masih banyak sekali dagingnya.
            Juleha mendesah. Keluarga Bu Monik sebenarnya orang-orang baik. Bu Monik bukan tipe majikan yang cerewet dan judes. Ia cukup murah hati malahan. Hanya satu saja kekurangan mereka, pikir Juleha. Sering membuang-buang makanan.
Kadang jika Bu Monik lupa memberikan nasi sisa pada Juleha, nasi itu teronggok saja di mangkuk sampai mengering atau berjamur. Padahal di tangan Juleha, nasi sisa yang masih bersih itu bisa diolah lagi menjadi kerupuk atau cireng, walaupun selama ini Bu Monik mengira nasi itu diberikannya pada ayam peliharaan tetangga.
            “Duh sayang banget,” pikir Juleha. “Kenapa mereka nggak pernah habiskan makanan mereka sih?” Dengan sedih, Juleha memasukkan sisa-sisa makanan itu dalam kantong plastik, lalu membuangnya ke tempat sampah.
            Juleha menyelesaikan pekerjaannya hari itu dengan semangat menggebu-gebu. Menyapu, mengepel, menyetrika, mengelap jendela, menyirami taman. Semua ia kerjakan dengan bersenandung. Terbayang-bayang olehnya gaun kuning cerah yang kemarin ditunjukkan oleh Mpok Mila. Sedangkan baju baru untuk Emak dan Abahnya, Juleha akan membelinya di pasar.
            Juleha pulang dari rumah Bu Monik dengan tersenyum lebar. Di gerbang, satpam menyapanya, menanyakan kapan Juleha dan keluarganya mudik. Besok, jawab Juleha. Satpam lalu mengucapkan selamat jalan.
            Dengan langkah panjang-panjang, dalam waktu sekejap saja Juleha sudah sampai di depan kontrakannya. Dilihatnya keramaian di depan warung Mpok Mila. Desi sedang bermain dengan Riski di sana. Dilihatnya Engkong Soleh duduk di bangku kayu di depan warung. Kakinya penuh luka. Dedi, suami Juleha, tengah membersihkan luka-luka itu dengan kain. Di samping mereka, Mak Ijah menangis tersedu. Mpok Mila mengusap-usap bahu wanita tua itu.
            “Ada apa ini, Kang?” Tanya Juleha pelan pada suaminya.
            “Kebonnya Engkong dirampok,” Mpok Mila yang menjawab. “Nangka sama pepaya yang udah mau dipanen tuh, habis semua.”
            “Ya Allah…” gumam Juleha.
            “Habis semua Jul, sebiji aja kagak disisain,” ratap Mak Ijah.
            Juleha menarik napas panjang. Ia duduk di sebelah Mak Ijah, merangkul wanita itu. “Sabar ya Mak.”
            “Engkong mah ikhlas aja dah, kali aja orang-orang itu lebih butuh dari pada kita,” ucap Engkong. “Engkong ikhlas.”
            Juleha dan yang lainnya terdiam.
            “Terus ini, kakinya Engkong kenapa?” Tanya Juleha.
            “Jadi tadi waktu Engkong ke kebon, orang-orang itu masih ada di sana. Lagi naikin karung ke atas motor. Dua ya Kong, motornya? Orangnya empat. Sama Engkong diteriakin, terus mereka kabur. Pas ngejar mereka, Engkong jatuh, kena batu-batu bekas proyek perumahan itu. Ditolongin sama Bang Mamat yang kebetulan lewat.” Dedi menjelaskan.
            “Padahal ada kali, lima karung mah, ya Mak?” Mpok Mila menyambung.
            “Orang kok tega banget ya,” isak Mak Ijah. “Kagak tau apa, susahnya ngurusin pohon-pohon itu sampe berbuah. Giliran mau dipanen, main ambil aja. Itu mah rampok namanya.” Mak Ijah kembali tersedu.
            “Mil, gue minta maaf ya, kagak jadi ambil baju buat si Riski,” kata Mak Ijah lagi. “Bayar pake apa, duitnya aja kagak jadi dapet. Buat makan besok aja gue kagak ada, Mil.”
            Mpok Mila tersenyum kecut. “Iye Mak, nggak apa-apa.”
            Juleha tercenung. Ditatapnya Riski, cucunya Mak Ijah, yang tengah bermain bersama Desi.
            “Nggak apa-apa Mak, ambil aja baju Si Riski sama adeknya. Juleha yang bayarin,” ucap Juleha lembut.
            Mak Ijah terperangah. Mpok Mila juga.
            “Kagak, kagak usah Jul,” sergah Mak Ijah. “Si Riski mah nggak apa-apa. Tahun kemarin juga dia ga dapet baju kok.”
            “Ya karena tahun kemarin nggak dapat baju, Mak. Kasihan.” Ujar Juleha. “Nggak apa-apa, uang saya masih cukup buat beliin Desi baju. Sisanya buat bajunya Riski sama adeknya aja.”
            Juleha menatap Dedi, meminta persetujuannya. Dedi mengangguk. Ia tidak mengatakan apapun, hanya menyunggingkan seulas senyum.
            “Kagak usah repot-repot Jul,” ujar Mak Ijah lagi. “Elu udah sering bantuin gue.”
            “Nggak apa-apa Mak,” sahut Juleha, “kita tetanggaan, udah kayak saudara sendiri. Hari ini saya yang bantuin Emak, lain waktu mungkin Emak yang bantuin saya.”
            Mak Ijah masih terisak.
            Malam itu, lagi-lagi keluarga Mak Ijah makan dengan nasi putih pemberian Juleha. Namun kali ini Juleha menambahkan ikan cuwe pemberian Bu Monik pagi tadi. Mpok Mila datang membawakan tempe goreng dan kerupuk. Juleha memandangi dengan sedih, teringat pada tumpukan makanan sisa di tempat sampah Bu Monik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar