Sabtu, 18 November 2017

LUBANG HITAM



          
 
Aku membaca pesan singkat di telepon genggam dengan malas. Dari nama pengirimnya saja aku sudah tahu apa yang diinginkannya dariku.
            Mbak, maaf ya, langsung aja nih, aku mau nanyain, uang seratus ribu yang dulu Mbak pinjam dariku, kapan mau dikembalikan? Aku lagi perlu banget soalnya. Tolong kabari aku secepatnya ya Mbak.” Begitu isi pesannya.
            Aku mengeluh. Dari mana bisa aku dapatkan uang untuk membayar hutang itu ya? Hari gajianku dari bekerja menyeterika pakaian di rumah Bu RW, masih akhir bulan nanti. Ya Tuhan, aku harus mencarinya di mana? Leni sudah menagih terus sejak dua minggu lalu. Tapi aku benar-benar tidak punya uang untuk membayar hutangku tempo hari.
            Aku menuju dapur, menyiapkan sarapan pagi sebelum anak-anak berangkat sekolah. Suamiku sudah berangkat sejak subuh tadi untuk menarik angkot.
Hanya ada sebutir telur yang tersisa di dapur, jadi aku mengocoknya dan mencampurkan sedikit tepung agar dadar yang kubuat terlihat lebih tebal. Setelah matang, kuiris telur dadar itu menjadi dua. Kulihat masih ada dua bungkus mie goreng instan di atas rak. Aku memasaknya dan menyajikannya bersama nasi dan telur tadi.
            “Kok telurnya cuma setengah, Bu?” Protes Mira. Mira adalah putri keduaku yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar.
            “Sudah jangan protes,” sahutku, “makan saja apa yang Ibu masak. Sudah untung kita bisa makan telur pagi ini.”
            Dila, sulungku, menyikut adiknya. “Cepetan makan,” bisiknya pada Mira.
            Mira masih cemberut. “Aku pingin banget, sekali-sekali makan spageti, atau pizza, kayak teman-temanku.”
            “Teman-temanmu yang mana?” tanyaku. Rasa-rasanya kebanyakan teman sekolah Mira sama saja kondisi ekonominya dengan keluarga kami. Banyak orang tua mereka yang satu profesi denganku, menjadi buruh cuci, tukang setrika, atau asisten rumah tangga. Jadi aku penasaran, teman-teman yang mana yang dimaksud oleh Mira.
            Mira tersenyum malu. “Hehe, cuma seorang sih. Itu Bu, temanku yang namanya Dinda.”
            “Dinda anak pindahan itu?” tanyaku lagi.
Mira mengangguk. “Dinda kan orang kaya,” ucap Mira lugu. Ia mulai menyendokkan nasi ke mulutnya. “Waktu Dinda ulang tahun minggu kemarin, dia bawa pizza banyaaak banget, terus dibagi-bagi ke teman-teman sekelas, sama guru-guru juga. Enak banget deh Bu…”
“Kenapa kamu nggak bawa pulang sedikit?” Tanya Dila. “Curang, makan sendirian.”
“Habis, aku kan lapar. Tiap anak kan cuma dikasih sepotong,” jawab Mira membela diri.
Cerita Mira memberiku sebuah ide. Aku tersenyum lega karena telah menemukan jalan untuk menyelesaikan masalahku.
***

“Jadi begitu, Mbak,” aku mengakhiri ceritaku pada Santi, ibunya Dinda. “Sebenarnya, saya malu sampai pinjam-pinjam begini. Tapi ya, namanya kepepet. Saya bingung, mau minta tolong sama siapa, Mbak.”
Santi terdiam. Sorot wajahnya terlihat prihatin. “Ya sudah, tunggu sebentar ya, Bu.” Ia lalu berdiri dan melangkah masuk.
Aku bersyukur dalam hati. Pagi tadi, setelah berbasa-basi menyapa Santi, aku menanyakan alamat rumahnya. Tanpa curiga ia memberitahuku. Lalu sore ini aku datang ke rumahnya, dengan wajah yang kubuat sememelas mungkin. Aku ceritakan padanya betapa putus asanya diriku, karena sulungku yang duduk di kelas enam belum membeli berbagai buku untuk persiapan menjelang ujian. Sementara guru terus menerus menyindir anak-anak yang belum mempunyai buku. Aku mencoba meminjam uang sana-sini, namun tak ada yang mau membantu.
            Santi menyimak ceritaku dengan penuh simpati. Mamanya Mira butuh berapa? Tanyanya. Dua ratus ribu saja Mbak, jawabku.
            Santi keluar ke ruang tamu dengan membawa lembaran uang. Diulurkannya uang itu padaku.
            “Makasih banyak ya, Mbak Santi,” ucapku penuh haru. “Saya janji, akhir bulan setelah saya dapat gaji nanti, pasti langsung saya bayar.”
            Santi mengangguk dan tersenyum. “Iya, tenang saja, Mama Mira.”
            Aku segera pamit dan berlalu dari rumahnya. Hatiku dibanjiri rasa lega. Dengan uang pinjaman ini, aku bisa membayar hutangku pada Leni, dan membungkam mulutnya yang bawel itu. Aku tidak benar-benar jujur waktu berkata pada Santi bahwa aku meminjam uang untuk membayar buku-buku Dila. Sebenarnya prioritasku adalah membayar hutang pada Leni. Tapi memang, aku harus membayar buku Dila juga, sekitar lima puluh ribu rupiah. Jadi aku tidak benar-benar berbohong, bukan? Dengan begitu maka aku tidak perlu terlalu merasa bersalah pada Santi. Masih ada sisa uang yang bisa kupakai untuk membeli daging ayam atau ikan di pasar. Kasihan Mira yang mengeluh karena makan telur dan mi instan setiap hari.
            Kadang kupikir betapa melelahkannya hidupku. Penghasilan suamiku dari menarik angkot tidaklah seberapa. Apalagi sejak maraknya ojek online, yang jauh lebih diminati masyarakat. Itu membuat pendapatan suamiku jauh menurun. Sementara kebutuhan hidup kami tidak berkurang. Membayar kontrakan, listrik, dan makan sehari-hari. Ada juga kebutuhan mendadak seperti anak-anak harus ikut kegiatan berenang, atau berkemah, atau sakit. Apalagi kini Dila sudah kelas enam, semakin banyak kebutuhan sekolahnya untuk persiapan ujian kelulusan dan perpisahan nanti.
Itu tadi semuanya hanya hal-hal yang pokok, yang tidak bisa kami hindari. Yang kerap kali menambah masalah, sering kali teman-temanku membawa barang-barang untuk dijual di sekolah, seperti baju-baju anak, seprai, daster, gamis, kerudung, dan yang lainnya. Melihat barang-barang yang menarik itu, wanita mana yang tidak tergiur? Apalagi teman-temanku itu berjualan dengan sistem yang sama, yaitu ambil dulu barangnya, lalu bayar belakangan alias ngutang. Kelihatan sangat mudah saat aku mengambil barang, baru kemudian mulai membuat pening saat tiba waktu untuk membayar semuanya. Semakin bertambah saja bebanku jika demikian. Tak punya cara lain, jika sudah jatuh tempo, aku mencari-cari hutang yang baru untuk membayar hutangku yang lama. Gali lubang tutup lubang. Melelahkan memang. Tapi jika tidak begitu, keluarga kami benar-benar tidak bisa memiliki barang apapun.
***

“Mbak! Mbak Nur,” seseorang memanggilku dari belakang. Aku menoleh dan mendapati Linda tengah berjalan tergopoh-gopoh mendatangiku.
“Eh, Lin, ada apa?” Tanyaku pura-pura polos.
“Itu, gamis yang dulu Mbak Nur ambil, kan baru bayar setengah ya? Ini udah dua bulan nih, udah harus bayar yang setengahnya lagi.” Linda menjelaskan.
“Aku belum ada uang, Lin,” ujarku pelan. Kumanipulasi ekspresi wajahku sedemikian rupa agar ia merasa iba.
“Yah, terus gimana dong Mbak, aku kan juga butuh buat modal belanja lagi.”
“Nanti deh ya, akhir bulan. Tunggu aku gajian,” pintaku.
Linda memandangiku beberapa saat, lalu menarik napas panjang. “Ya udah deh, bener ya akhir bulan?”
“Iya, aku janji,” sahutku cepat. Detik itu juga aku ingat bahwa aku sudah menjanjikan gajiku di akhir bulan nanti untuk membayar hutangku pada Santi. Tapi itu urusan belakangan. Yang penting sekarang aku bisa lolos dahulu dari Linda.
Setelah Linda pergi, aku berjalan cepat-cepat menuju rumahku. Aku memutar otak, bagaimana caranya mendapatkan uang untuk melunasi hutangku. Hutang gamisku pada Linda masih seratus lima puluh ribu lagi. Belum lagi hutangku pada Santi. Tapi Santi kelihatannya orang yang baik. Lagipula dia kelihatan berkecukupan. Mungkin ia bisa memaklumi jika aku minta untuk menangguhkan dahulu pembayaran hutangku padanya.
***
Akhir bulan tiba. Seperti yang sudah kujanjikan, sore nanti aku akan ke rumah Linda untuk melunasi hutangku. Tinggal mencari alasan untuk menangguhkan pembayaran hutangku pada Santi.
Aku bergegas pulang dari rumah bu RW, dengan gaji di sakuku. Aku harus mampir ke warung Bu Lilis, membayar hutang beras dan minyak goreng minggu lalu. Aku baru saja memasuki halaman rumah Bu Lilis, ketika tiba-tiba seseorang menggamit lenganku.
“Ne…Neneng,” seruku kaget. Aku tidak melihat dia berdiri di sana tadi.
“Akhirnya ketemu juga, sudah lama aku mencari-cari kamu, tahu nggak?” ucapnya galak. “Aku cari ke rumahmu, selalu tertutup. Ku cari ke sekolah, selalu kabur duluan. Kapan kamu mau bayar hutangmu? Kamu ingat sudah berapa bulan kamu main kucing-kucingan sama aku?”
Tentu saja aku ingat, aku pernah meminjam uangnya untuk membayar DP sepeda motor beberapa bulan lalu. Waktu itu aku dan suamiku ingin mengkredit motor agar dapat digunakan untuk mengojek online. Sebenarnya, akulah yang memaksa suamiku. Gaji seorang pengojek online tampaknya lebih menjanjikan dari pada supir angkot. Jadi aku merecokinya setiap hari, sampai akhirnya ia menyerah dan setuju untuk mengambil kredit motor. Mulanya, kami bisa membayar cicilan dengan rutin, tetapi entah bagaimana, makin lama kami makin tidak sanggup membayar cicilannya. Setelah menunggak beberapa bulan, akhirnya sepeda motor itu ditarik kembali.
Neneng melihatku memasukkan tangan ke dalam saku.
“Kamu baru saja gajian dari Bu RW kan?” tanyanya dengan nanda menuntut. “Ayo, bayar hutangmu sekarang!”
Aku menggeleng ketakutan. Kubenamkan tanganku dalam saku semakin dalam.
Neneng naik pitam. Ia mencengkeram tanganku dan memaksa mengeluarkan tanganku dari saku.
“Nah benar kan,” Neneng berseru senang, melihat lembar-lembar uang yang kugenggam. “Kamu mau beralasan apa lagi? Kamu mau berurusan dengan polisi?”
Aku menggeleng kuat-kuat. Apa jadinya kalau ia benar-benar membawaku ke polisi? Bagaimana dengan Dila dan Mira nanti?
Neneng merebut uangku dengan kasar. Dihitungnya lembaran-lembaran uang itu, lalu ia melihatku dengan marah. “Cuma segini?”
Aku mengangguk. Memang hanya empat ratus ribu, gajiku dari menyetrika baju di rumah Bu RW setiap bulannya.
“Kamu ini ya, kalau sudah tahu nggak punya uang, jangan kebanyakan gaya dong! Ternyata gajimu cuma segini! Tapi gayamu itu, hutang sana, hutang sini. Kredit motor, kredit panci, baju, segala macam. Kebanyakan gaya! Mau kamu bayar pakai apa?!”
Mukaku terasa panas. Mungkin aku memang salah, tapi ia tidak berhak mempermalukan aku seperti ini di depan umum. Di depan warung Bu Lilis, di tengah keramaian orang. Aku sungguh  berharap tanah yang kuinjak ini terbelah agar aku bisa menghilang ke dalamnya.
“Ini masih kurang! Aku kasih kamu waktu seminggu lagi, dan semuanya harus lunas. Aku nggak mau tahu. Awas saja sampai kamu berani kabur,” ancam Neneng. Ia memandangiku dari atas sampai bawah, dengan tatapan seperti sedang melihat tikus tergilas di jalanan.
Sebelum pergi ia masih sempat mencemoohku, “Banyak gaya sih lu. Makan tuh gaya.”
***

Aku memasuki rumah dengan perasaan hampa. Kedua kakiku terasa lemas. Aku jatuh terduduk di kamar. Tak jadi aku membayar hutang beras di warung Bu Lilis. Dan entah bagaimana aku harus menghadapi Linda nanti. Uangku sudah habis. Belum kutemukan lagi tempat untuk menggali dan menutup lubang-lubang hutangku. Tak mungkin pula aku meminta pada suamiku. Penghasilannya hanya cukup untuk membayar sewa kontrakan dan listrik. Masalah DP motor itu, ia memang pernah berjanji akan memikirkan cara melunasinya. Tetapi hanya janji-janji saja. Tidak mudah mengumpulkan uang sebanyak itu dengan penghasilannya yang pas-pasan.
Kupandangi seisi kamarku yang kecil dan gelap. Awalnya hanya ada sebuah kasur di kamar ini. Lalu aku membeli sebuah kasur lagi, agar anak-anak bisa tidur dengan lebih nyaman. Tentu saja secara kredit. Di ujung sana, aku meletakkan sebuah lemari plastik, penuh sesak menampung baju-baju kami, yang semula hanya disimpan di dalam kardus. Lemari itu juga kubeli dengan cara kredit.
Pandanganku beralih ke barang-barang lainnya. Seprai, selimut, baju-baju. Panci-panci di dapur. Itu semua juga kubeli secara kredit. Mulanya hanya satu macam barang saja setiap bulan. Lalu entah mengapa, semakin lama jadi semakin banyak barang yang kubeli secara berhutang. Hidup kami memang pas-pasan. Tetapi apakah salah, jika aku ingin memiliki barang-barang yang bagus, seperti orang lain?
Kepalaku sakit. Aku hanya ingin berdiam di rumah saja seharian. Saat Dila dan Mira pulang dari sekolah, aku berpesan pada mereka, jika ada yang mencariku, katakan saja ibu tidak ada.
“Memangnya kenapa Bu?” Tanya Mira.
Aku menggeleng. “Tidak apa-apa,” jawabku.
Sisa hari itu kuhabiskan dengan berbaring-baring saja di kamar. Kepalaku sakit. Aku terlalu bingung untuk melakukan apapun.
Pagi hari ketika terbangun dari tidur, kepalaku masih berdenyut-denyut. Handphone bututku berdenting, menandakan ada pesan yang masuk. Dari Linda. Sudah bisa kutebak seperti apa isinya.
Mbak, hari ini bayar gamisnya ya, kan sudah janji. Nanti aku ke rumahmu.
Jadi aku berangkat kerja ke rumah Bu RW pagi-pagi sekali, demi menghindar bertemu dengan Linda.

Rumah Bu RW pagi ini sepi. Pak RW, sedang ada kegiatan di kantor kelurahan. Bu RW tengah sibuk di Posyandu. Kedua anak mereka sudah berangkat ke sekolah. Bu RW berpesan agar kunci pintu nanti dititipkan pada Bu Sari, tetangga samping rumahnya.
Bu RW biasa mencuci pakaiannya sendiri. Ia menggunakan mesin cuci satu tabung, dan sangat khawatir mesin itu cepat rusak jika dioperasikan oleh orang lain selain dirinya. Urusan bersih-bersih rumah dan mencuci piring juga ia kerjakan sendiri. Jadi tugasku di rumah ini hanya menyetrika pakaian. Setelah selesai, pakaian itu kupisah-pisahkan berdasarkan pemiliknya, lalu ku letakkan di kamar mereka masing-masing.
Hari ini, aku tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaanku. Seraya menyetrika, pikiranku terus melayang pada Linda, Santi, dan Bu Lilis. Juga pada hinaan Neneng kemarin.
Pagi ini aku berhasil menghindari Linda. Tapi bagaimana hari berikutnya? Dan bagaimana pula dengan ancaman Neneng jika minggu depan aku tidak bisa melunasi hutangku padanya? Kepalaku sungguh sakit memikirkannya. Aku sungguh kehabisan akal, bagaimana seharusnya aku keluar dari semua masalah ini.
Jam di ruang tengah Bu RW sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Aku menghembuskan napas lega, setelah baju terkhir selesai kusetrika. Aku menyusun baju-baju itu berdasarkan pemiliknya. Baju Rendi dan Nita, anak-anak Bu RW, kumasukkan  ke kamar mereka masing-masing. Kamar Nita sangat bersih dan rapi. Sama seperti ibunya, rupanya dia sangat rajin membersihkan  kamar. Kamar Rendi sebaliknya. Buku-buku, kaus kaki, raket bulu tangkis, topi dan jaket berserakan di lantai. Kasurnya acak-acakan. Selimut, bantal, dan guling bergulung-gulung di atasnya. Aku sedang bertanya-tanya dalam hati apakah aku harus membereskannya atau tidak, ketika kulihat sesuatu tersembul dari bawah selimut. Sebuah laptop. Dan sebuah kartu dilapisi plastik berisi sejumlah uang. Kartu bayaran dengan nama sekolah swasta tempat Rendi dan Nita bersekolah. Jumlahnya lumayan.
Jantungku berdegup kencang. Jika aku menjual laptop ini, akan lebih dari cukup untuk melunasi semua hutangku. Aku tak perlu lagi menghindari Linda dan Santi. Tak perlu merasa malu lagi pada Bu Lilis. Dan yang terpenting, tak perlu menunduk-nunduk lagi di depan Neneng. Tapi bagaimana jika mereka menanyaiku, apakah aku melihat laptop Rendi atau tidak? Tapi, sepengetahuanku, Rendi itu anak yang ceroboh dan pelupa. Ia pernah dua kali kelihangan handphone-nya. Kali pertama di sekolah, lalu yang kedua ketika bepergian dengan temannya. Jika laptop ini hilang, mereka akan menyangka Rendi lupa meletakkannya saat di sekolah atau di rumah temannya, dan saat itulah laptopnya diambil orang. Yah, mereka mungkin akan sedikit mencurigaiku juga, tapi toh mereka tak memiliki bukti untuk menuduhku.
Aku bergegas ke dapur untuk mencari kantong plastik. Aku membungkus laptop itu rapat-rapat, dan memasukkannya dalam kantong plastik hitam yang lebih besar. Tak ketinggalan, kumasukkan pula kartu bayaran sekolah Rendi yang berisi uang. Jika aku bergegas, tak akan ada seorangpun yang mencurigaiku.
Aku mengunci pintu depan dengan tergesa-gesa. Ketika berbalik, aku terkejut bukan kepalang sampai rasanya jantungku mau copot. Bu RW berdiri tepat di depanku!
“Sudah selesai menyetrikanya, Nur?” ia bertanya ramah seperti biasanya. Namun dalam kepanikanku, suaranya bagaikan halilintar yang merobek-robek jantungku.
“Kamu kenapa, kok pucat begitu?” Matanya segera beralih pada bungkusan di tanganku. “Apa yang kamu bawa itu?” Ia bertanya dengan nada heran.
Aku terdiam dan menggeleng lemah. Sekujur tubuhku seakan diguyur air es.
“Kamu bawa apa itu, Nur?”
Ingin rasanya aku segera kabur. Tapi ia berdiri tepat di hadapanku. Ia mulai curiga dengan sikapku.
“Boleh saya lihat? Apa yang kamu bawa itu?”
Melihatku diam mematung, Bu RW kian mencurigaiku. Diambilnya bungkusan plastik dari tanganku. Matanya terbelalak. “Kamu mencuri?”
Aku mencoba mencari alasan. Tapi ia bergerak lebih cepat.
“Saya tidak bisa memaafkan seorang pencuri, apalagi jika pelakunya adalah orang dekat saya sendiri.” Bu RW berseru marah.
Ia menarikku ke dalam rumah. Aku menangis dan berteriak-teriak meminta maaf. Aku katakan padanya berkali-kali aku khilaf. Beberapa tetangga mulai berdatangan, mendengar suara ribut-ribut. Aku takut luar biasa. Aku takut mereka akan datang berbondong-bondong dan memukuliku, seperti yang mereka lakukan pada maling motor yang tertangkap basah beberapa bulan lalu.
Bu RW mendorongku ke ruang tamu. “Kamu duduk di sini! Diam di sini sampai saya panggil Pak RW dan polisi!”
“Jangan Bu… Jangan,” seruku panik. Aku tak mau dipenjara. “Saya minta maaf, Bu… Saya khilaf…”
“Ah, alasan saja kamu,” sergah Bu RW. “Diam di sini sampai polisi datang! Dan jangan berani-berani kabur ya, di dalam sini kamu aman, tapi kalau kamu kabur, warga sekampung ini bisa memukuli kamu!”
Aku tersedu. Tak lama Pak RW datang bersama dua orang polisi. Mereka berbicara dengan Bu RW. Tapi aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Aku hanya menangis, menangis, dan menangis. Bayangan Linda, Santi, Neneng, Bu Lilis, berputar-putar di hadapanku. Lalu muncul bayangan Dila dan Mira. Aku melolong putus asa. Lalu aku merasa tertarik jauh, jauh sekali dalam lubang hitam yang sangat dalam yang telah kuciptakan sendiri.

1 komentar:

  1. KABAR BAIK!!!

    Nama saya Aris Mia, saya ingin menggunakan media ini untuk mengingatkan semua pencari pinjaman sangat berhati-hati, karena ada penipuan di mana-mana, mereka akan mengirim dokumen perjanjian palsu untuk Anda dan mereka akan mengatakan tidak ada pembayaran dimuka, tetapi mereka adalah orang-orang iseng, karena mereka kemudian akan meminta untuk pembayaran biaya lisensi dan biaya transfer, sehingga hati-hati dari mereka penipuan Perusahaan Pinjaman.

    Beberapa bulan yang lalu saya tegang finansial dan putus asa, saya telah tertipu oleh beberapa pemberi pinjaman online. Saya hampir kehilangan harapan sampai Tuhan digunakan teman saya yang merujuk saya ke pemberi pinjaman sangat handal disebut Ibu Cynthia, yang meminjamkan pinjaman tanpa jaminan dari Rp800,000,000 (800 juta) dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa tekanan atau stres dan tingkat bunga hanya 2%.

    Saya sangat terkejut ketika saya memeriksa saldo rekening bank saya dan menemukan bahwa jumlah yang saya diterapkan, telah dikirim langsung ke rekening bank saya tanpa penundaan.

    Karena saya berjanji bahwa saya akan membagikan kabar baik, sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi, jika Anda membutuhkan pinjaman apapun, silahkan menghubungi dia melalui email nyata: cynthiajohnsonloancompany@gmail.com dan oleh kasih karunia Allah ia tidak akan pernah mengecewakan Anda dalam mendapatkan pinjaman jika Anda menuruti perintahnya.

    Anda juga dapat menghubungi saya di email saya: ladymia383@gmail.com dan Sety yang memperkenalkan dan bercerita tentang Ibu Cynthia, dia juga mendapat pinjaman baru dari Ibu Cynthia, Anda juga dapat menghubungi dia melalui email-nya: arissetymin@gmail.com sekarang, semua akan saya lakukan adalah mencoba untuk memenuhi pembayaran pinjaman saya bahwa saya kirim langsung ke rekening mereka bulanan.

    Sebuah kata yang cukup untuk bijaksana.

    BalasHapus